Menggali Nilai-Nilai Pancasila dalam Struktur Budaya Indonesia

A. Pengertian Nilai

Menurut Drs. Paulus Wahana, nilai tidak dapat terwujud pada dirinya sendiri dalam perwujudannya di dunia inderawi ini. Nilai membutuhkan sesuatu untuk menjelmakannya sebagai pembawa nilai (carrier of value). Nilai menjadi nyata ketika diwujudkan dan melekat sebagai kualitas pada barang/ keadaan/ peristiwa/ pribadi/ tindakan yang bernilai. Namun dalam dunia nilai, nilai merupakan kualitas yang keberadaannya tidak tergantung pada pembawanya (hal bernilai).

Nilai merupakan suatu kualitas yang telah ada dan dapat ditangkap dan dirasakan manusia sebelum mengalaminya dalam dunia inderawi. Kualitas nilai tidak tergantung pada pembawa nilai dan juga tidak tergantung pada reaksi/ tanggapan serta penilaian kita. Nilai tidak berubah seiring dengan perubahan pembawa nilai; nilai tidak berubah dan bersifat absolute. Nilai persahabatan tetap abadi sebagai nilai persahabatan meskipun dalam pelaksanaan ada pengkhianatan.

Nilai merupakan kompleks kualitas yang memiliki kesesuaian serta menjadi arah tujuan bagi kecenderungan kodrat manusia; selaras dengan kecenderungan kodrat manusia yang multi dimensional sehingga bagi kita manusia terdapat berbagai jenis nilai, misalnya: terkait dengan kedudukan kodratnya sebagai ciptaan Tuhan yang paling luhur, terdapat nilai ketuhanan, nilai keimanan, nilai religius; terkait dengan sifat kodratnya sebagai mahluk sosial, terdapat nilai persatuan, nilai persahabatan, nilai persaudaraan, nilai kerjasama; terkait dengan unsur kerohaniannya, terdapat nilai intelektual, nilai rasional, nilai kebenaran, nilai kebatinan, nilai kedamaian, nilai keamanan, nilai kebebasan, nilai kedaulatan; dan lain sebagainya.

Berdasarkan keanekaragaman bidang kehidupan manusia, dapat ditemukan berbagai bidang sebagai berikut: nilai kesehatan, nilai sosial ekonomi, nilai sosial politik, nilai pendidikan, nilai keagamaan. Berdasarkan langkah dan arah kegiatan mewujudkan nilai, terdapat 3 jenis nilai yaitu: nilai perantara (bonum utile), nilai sejati yang sesungguhnya, dan nilai kesenangan yang menyertainya (bonum delectabile).

Selain keanekaragaman nilai, terdapat suatu susunan hierarki nilai. hierarki nilai bersifat mutlak/ absolute dan mengatasi segala perubahan historis, serta membangun suatu system acuan yang absolute. Setiap nilai, baik yang telah kita ketahui maupun yang belum kita ketahui memiliki tempatnya masing- masing dalam hierarki nilai.

B. Nilai Moral dan Kewajiban Moral

Berdasarkan modul yang menjadi referensi kami, nilai moral ditemukan dalam perwujudan nilai- nilai nonmoral. Nilai moral melekat pada tindakan yang mewujudkan nilai- nilai lainnya dalam tata tertib yang benar. Kebaikan moral merupakan kehendak mewujudkan nilai positif, kehendak mewujudkan nilai lebih tinggi atau tertinggi; sedangkan kejahatan adalah kehendak memilih nilai positif, kehendak memilih nilai yang lebih rendah atau nilai yang terendah.

Berkenaan dengan nilai moral, hanya pribadi dapat secara moral baik atau jahat. Kehendak maupun perbuatan dapat menjadi baik atau jahat hanya sejauh sebagai tindakan pribadi atau yang dipahami sebagai berhubungan dengan tindakan pribadi tersebut. Seorang pribadi tidak pernah hanya dapat dinilai dan diperlakukan sebagai yang menyenangkan atau berguna, nilai- nilai ini secara hakiki merupakan nilai barang dan nilai kejahatan.

Sesuatu yang bernilai positif harus ada dan sesuatu yang bernilai negatif harus tidak ada. Keberadaan nilai positif pada dirinya sendiri adalah nilai positif, sebagai yang seharusnya ada; sedangkan keberadaan nilai negatif sebagai yang seharusnya tidak ada dalam realitas inderawi. Semua kewajiban harus memiliki dasarnya dalam nilai, yaitu bahwa suatu nilai harus ada atau tidak ada; nilai positif harus ada, sedangkan nilai negatif harus tidak ada. Suatu ada sebagai yang secara positif harus ada itu benar, sedangkan suatu ada sebagai yang harus tidak ada itu salah.

C. Menggali Nilai-nilai Pancasila dalam Budaya Indonesia

Drs. Paulus Wahana juga membagi lima tahap perkembangan budaya yang ada di Indonesia. Dan dalam setiap tahapnya, terkandung unsur-unsur Pancasila yang dilihat dari lima sila yang ada. Berikut adalah pembagian tahap-tahap perkembangan Pancasila dan unsur-unsur Pancasila di dalamnya.

<!1. Unsur Pancasila pada Tahap Kebudayaan Indonesia Asli

2.2. Unsur Pancasila pada Tahap Perkembangan Pengaruh Budaya Hindu

3.3. Unsur Pancasila pada Tahap Perkembangan Pengaruh Budaya Islam

4.4. Unsur Pancasila pada Tahap Perkembangan Pengaruh Budaya Kristen dan Barat

5.5. Unsur Pancasila pada Tahap Mencari Bentuk Kebudayaan Nasional Indonesia

111. Unsur Pancasila pada Tahap Kebudayaan Indonesia Asli

Para ahli sejarah dan antropologi dapat memperlihatkan bahwa sebelum kebudayaan Hindu masuk dan berkembang di Indonesia, berbagai suku bangsa Indonesia telah mengenal unsur-unsur pembentuk Pancasila. Nilai-nilai kehidupan yang dapat disebut sebagai embrio nilai-nilai Pancasila ternyata memang sudah nampak pada tahap perkembangan ini.

Jika kita melihat dari nilai yang terdapat pada sila I Pancasila, pada masa sebelum kebudayaan Hindu berpengaruh, orang Indonesia telah mengenal pengakuan dan pemujaan kepada sesuatu kekuatan yang mengatasi manusia dalam segala aspeknya. Dan hal tersebut bukan sekedar animisme. Misalnya, di Kalimantan. Orang mengenal sebutan Tuh sebagai bagian kepercayaan terhadap kekuatan yang mengatasi manusia, yang kemudian menurun menjadi Tuhan, dan kemudian menjadi Ketuhanan (M. Yamin). Selain itu di Jawa, orang mengenal sebutan Hyang Paring Gesang, sedangkan di Tapanuli mengenal sebutan Ompu Debata. Dengan kata lain, hal tersebut menunjukkan bahwa pada dasrnya Indonesia telah berketuhanan sejak dahulu kala, dengan melalui berbagai cara. Misalnya, dengan mengenal pengakuan dan pemujaan kepada sesuatu yang dianggap mempunyai kekuatan yang mampu menjadi pegangan manusia. Setiap masyarakat pun memiliki sebutan dan ritual yang berbeda-beda.

Bila dilihat dari sila ke-II, rasa kemanusiaan ditunjukkan dengan kesediaan bangsa Indonesia untuk bergaul dengan berbagai orang dari negeri jauh, sehingga terbuka jalan untuk masuknya kebudayaan luar. Dari penelitian sejarah dapat diketahui bahwa pada zaman kuno hubungan antar bangsa sudah ada. Kebudayaan Hindu dapat dengan mudah masuk justru karena adanya sikap terbuka dari orang-orang Indonesia pada zaman dulu. Hal tersebut menunjukkan bahwa manusia Indonesia pada dasarnya telah menjunjung tinggi nilai kemanusiaan, khususnya dalam tahap perkembangan budaya Indonesia asli.

Pada masa awal peradaban di Indonesia manusia hidup dalam kesatuan-kesatuan kecil yang kemudian disebut suku. Mereka hidup dalam kesatuan atau ikatan suku itu. Karena tanah masih luas dan cara hidup yang masih sederhana mereka lebih mudah berpindah-pindah. Ikatan dengan tanah tempat tinggal masih longgar. Walaupun mereka suka berpindah-pindah tempat, mereka tetap bersatu dengan kelompoknya yang ada. Dengan kata lain, mereka berpindah secara berkelompok. Nilai kesatuan tersebut merupakan unsur yang terkandung dalam Pancasila, sila ke III.

Dalam sila ke IV, terkandung nilai bahwa musyawarah dilakukan berdasarkan asas kekeluargaan. Dalam hubungannya, penelitian dalam bidang antropologi menunjukkan bahwa ikatan suku dijiwai oleh semangat kekeluargaan yang besar, yang dalam bahasa asing disebut dengan istilah komunal (communal). Masyarakat suku menggunakan cara berunding, berembug atau bermusyawarah untuk menghadapi sesuatu persoalan. Masyarakat Lombok mengenal istilah begundem. Semangat kekeluargaan juga Nampak dalam pembangunan dengan istilah gotong royong atau mapalus (Manado). Dengan ini mereka melaksanakan kesatuan karya untuk menciptakan kesejahteraan sosial.

Organisasi masyarakat, betapapun kecilnya, bertujuan untuk terwujudnya kesejahteraan bagi para warganya. Hak milik atas tanah yang bersifat komunal tidak terlepas dari tujuan diatas. Begitu juga pembuatan rumah- rumah besar untuk keluarga pasti dengan maksud untuk terwujudnya kesejahteraan bersama itu pula. Hal ini nampak dalam masyarakat Mentawai, Dayak, Toraja maupun Irian. Bahkan rumah- rumah keluarga Jawa dahulu besar- besar juga. Untuk menyelesaikan pekerjaan itu warga masyarakat bergotong royong.

Uraian di atas menunjukkan unsur-unsur asli yang nanti akan berkembang sejalan berkembangnya peradaban manusia Indonesia. Unsur- unsur ini sebenarnya bersifat universal, semua bangsa di dunia mengalami tahap- tahap yang demikian itu.

22.Unsur Pancasila pada Tahap Perkembangan Pengaruh Budaya Hindu

Tidak dapat kita hindari bahwa adanya pengaruh budaya Hindu di beberapa aspek kehidupan. Yang paling jelas, pengaruh itu nampak dalam hal agama. Dengan adanya pengaruh Hindu, masyarakat Indonesia mengalami perkembangan dalam hal agama. Mereka secara lebih nyata memuja kekuatan yang mengatasi manusia, yang tidak lagi tanpa bentuk, melainkan sebuah citra yang dibentuk oleh sosok dewa-dewi, seperti Brahma, Wisnu, dan Syiwa, atau Adi Budha dalam paham Budha.

Pergaulan antarbangsa pun semakin intensif, misalnya dengan orang India dan Cina. Hal tersebut menunjukan kemanusiaan yang semakin berkembang pula. Masyarakat Indonesia menerima kehadiran orang asing untuk berkarya. Hal tersebut juga dapat memungkinkan munculnya perkawinan antarbangsa. Orang dari daerah bahkan dari negara lain pun dapat diterima menjadi raja. Kisah Ajisaka melambangkan sikap yang demikian itu.

Pengaruh budaya Hindu juga menyebabkan munculnya ikatan masyarakat baru, yaitu terbentuknya kerajaan. Ikatan warga masyarakat menjadi diperluas, sedangkan ikatan dengan tanah diperkuat. Batas wilayah kerajaan lebih nyata daripada batas wilayah kesukuan pada masa sebelumnya. Sikap mempertahankan daerah sendiri yang biasa disebut tanah air sering diperlihatkan dalam peperangan.

Meskipun kedudukan orang yang satu dibatasi oleh aturan tertentu, yaitu kasta, akan tetapi prinsip musyawarah masih berjalan. Raja mempunyai Dewan penasihat, sementara di kalangan masyarakat yang jauh dari istana kebiasaan lama dalam masyarakat komunal masih hidup. Perlu diingat pula bahwa pengaruh Hindu tidak tersebar secara merata di Indonesia.

Kesejahteraan umum nampaknya tetap mendapat perhatian walaupun masyarakat diwajibkan untuk patuh kepada raja atau dewa. Hal tersebut nampak dari pembangunan bendungan atau tanggul, pembebasan desa-desa tertentu. Semua itu menunjukan bahwa nilai-nilai yang menjadi embrio Pancasila tetap bertahan.

Keberadaan orang Indonesia bersama-sama dengan orang luar, khususnya India dan Cina, penganut agama Hindu dan Buddha memperlihatkan sikap persaudaraan mereka. Begitu juga keberadaan pemeluk agama Hindu dan Buddha di daerah yang berdekatan, atau malahan dalam satu daerah (Negara), memperlihatkan toleransi antara penduduk yang menghuni daerah (Negara) itu. Ini terlihat dari letak bangunan Hindu dan Buddha di Jawa yang berdekatan. Juga terlihat arah sinkretisme antara kedua agama seperti terlihat dalam hiasan candi Borobudur dan candi Mendut, perkawinan raja dengan putri beragama lain, penggelaran raja Kertanegara sebagai Batara Syiwa-Budha. Dan yang mungkin menandai puncak sinkretisme itu adalah gamabaran Tantular dalam Sutasoma (+ 1360) yang menyatakan bahwa pada zaman Majapahit hidupalh suasana Bhinneka Tunggal Ika, Tan Hana Dharma Mangiwa (meskipun berbeda tetapi tetap satu, tiada perpecahan dalam agama).

<!3.Unsur Pancasila pada Tahap Perkembangan Pengaruh Budaya Islam

Pada akhir abad XIII, pengaruh Islam di Indonesia tampak nyata seperti yang tertuliskan pada nisan Sultan Malik al Saleh dari Samudera Pasai. Akan tetapi, pengenalan ajaran agama Islam ke Indonesia sudah lebih awal. Meskipun demikian, perkembangan Islam di Indonesia baru menjadi luas setelah runtuhnya Majapahit pada abad XV.

Pengaruh pertama dari penyebaran Islam di Indonesia adalah berkembangnya agama baru, yang mengubah pemujaan dewa menjadi pemujaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Agama Islam memang telah menyebar ke seluruh Indonesia, dan orang-orang yang dulu beragama Hindu atau Buddha telah menjadi Islam. Namun penganut agama Hindu dan Buddha masih ada yang bertahan. Mereka mengundurkan diri ke daerah pegunungan, seperti yang terlihat pada masyarakat Tengger di Jawa Timur. Kalau tidak ke daerah pegunungan, mereka pindah ke pulau lain, Bali.

Ajaran agama Islam memang telah tersebar tetapi taraf keislaman masyarakat Indonesia bervariasi, bahkan H.M.S. Mintaredja pernah mengemukakan bahwa sampai masa Orde Baru dari jumlah orang Indonesia yang mengaku beragama Islam hanya 20% yang beragama Islam taat.

Masyarakat Indonesia yang telah menjadi Islam sanggup bekerja sama dengan orang-orang beragama lain. Mereka tidak menjadikan agama sebagai halangan mereka untuk melakukan perdagangan antarbangsa. Dalam politik sering kita lihat juga terjadi kerjasama itu, misalnya VOC dengan Sultan Haji dari Banten, VOC dan Susuhan Mataram. Dalam urusan pemberangkatan haji VOC dan EIC memberikan jasa juga.

Ternyata rasa cinta masyarakat terhadap kelompok sosial dan daerah (Negara) terus berkembang. Pada masa perkembangan agama Islam juga memunculkan kekuatan dari Barat yang sering mengancam kebebasan, maka bertambahnya semangat cinta terhadap kelompok dan daerah seiring dengan bertambahnya semangat untuk mempertahankan kebebasan.

Budaya Islam juga mempengaruhi sifat kerakyatan yang ada dalam masyarakat Indonesia. Di satu pihak, Islam mengangkat derajat orang bawahan karena ajaran Uchuwah Islamiyah (persaudaraan Islam). Tetapi di sisi lain, kita menyaksikan berkembangnya kerajaan-kerajaan feodal dengan rajanya yang berkuasa secara absolut, seperti seperti kerajaan-kerajaan Islam di Jawa.

Islam memang mengajarkan perbuatan amal (kebaikan) dan zakat fitrah (pemberian yang diwajibkan). Akan tetapi politik raja-raja Islam sering menjauhkan rakyat dari kemungkinan beramal dan berzakat, karena banyaknya peperangan yang mereka lakukan. Sering dijumpai desa-desa yang hanya dihuni orang tua dan anak-anak, karena mereka yang masih kuat untuk pergi berperang, sehingga tanah pertanian menjadi terlantar.

<!–4.Unsur Pancasila pada Tahap Perkembangan Pengaruh Budaya Kristen dan Barat

Pada awal abad XVI orang Barat mulai memasuki Indonesia, meskipun pada abad-abad sebelumnya sudah ada orang Barat yang datang ke Indonesia, seperti Marco Polo. Abad XV dan XVI memang dikenal sebagai abad penjelajahan karena orang-orang Barat dengan keberanian dan kecerdikan menjelajah berbagai samudera untuk menemukan negri-negri baru.

Penjelajahan itu dilatarbelakangi oleh beberapa faktor, dari bidang perdagangan, agama, maupun sekedar petualangan. Penjelajahan itu juga dapat mengakibatkan timbulnya semanagt untuk menjajah suatu wilayah.

Sikap bersahabat selalu diperlihatkan oleh masyarakat Indonesia dalam menghadapi kedatangan orang-orang asing itu. Namun kemudian, orang-orang asing itu melakukan tindakan-tindakan untuk menguasai negri mereka. Oleh karena itu, sikap bersahabat itu berubah menjadi sikap memusuhi. Ini terbukti dari peperangan yang terjadi melawan berbagai orang asing itu sejak abad XVI sampai awal abad XX.

Meskipun demikian, bukan berarti kedatangan orang barat hanya membawa kesukaran bagi masyarakat atau bangsa Indonesia. Orang Barat juga menjadi perantara berkembangnya agama Kristen (Katolik dan Protestan), yang sebenarnya agama itu lahir di dunia Timur. Sungguh naif jika mengatakan bahwa agama Kristen berkembang berkat bantuan penjajah. Bahkan pada jaman VOC, agama Katolik merupakan agama yang tidak diakui dan karenanya tidak mendapat kebebasan di Indonesia. Di pandang dari segi budaya, maka berkembangnya agama Kristen di Indonesia memperkaya khasanah budaya bangsa Indonesia.

Di lain pihak, orang Barat yang ada di Indonesia memperkenalkan berbagai unsur budaya baru, baik yang kongkret seperti macam pakaian, cara bertani, alat transportasi modern atau teknologi pada umumnya, dan yang abstrak seperti berbagai ide kenegaraan dan kemasyarakatan. Selain itu, dalam pengenalan pendidikan Barat, yang sering dipandang sebagai ciri pendidikan modern.

Suka atau tidaknya dari yang dihasilkan dari pengaruh budaya Kristen dan Barat adalah kenyataan bahwa kesatuan nasional yang kita miliki sekarang dirintis oleh kesatuan kolonial. Situasi dan kondisi penjajahan juga memberi peluang bagi integrasi nasional, yang secara bertahap dan pasti memberi jalan bagi pembentukan bangsa Indonesia dalam pengertian politik seperti sekarang.

Pembentukan bangsa Indonesia memang melewati tahap perjuangan. Mereka sadar bahwa perubahan status dari orang jajahan menjadi orang merdeka hanya dapat dicapai dengan pembentukan bangsa yang satu. Dan dengan demikian hanya dengan perjuangan pula nasib ekonomi rakyat dapat diperbaiki, menuju ke pembentukan masyarakat baru yang adil dan makmur.

Pergerakan kebangsaan bukan saja bertujuan mereebut kemerdekaan tetapi juga bertujuan untuk menciptakan suasana kehidupan baru yang demokratik, seperti corak demokratik yang ada di Negara-negara Eropa. Semangat kepriyayian yang feodalistik karenanya merupakan hal yang ditolak juga.

Jadi meskipun pemerintah jajahan dengan berbagai cara berusaha menindas pergerakan kebangsaan, namun pergerakan kebangsaan tetap tumbuh dan sanggup mempersenjatai diri dengan berbagai ide (pemikiran) yang berasal dari barat, yang masuk ke Indonesia lewat penjajahan itu pula, seperti kesamaan dan kebebasan, demokrasi, nasionalisme, dan sosialisme dalam konsepnya yang modern.

<5.Unsur Pancasila pada Tahap Mencari Bentuk Kebudayaan Nasional Indonesia

I.5.1 Nasionalisme, Islamisme, dan Marxisme

Kebangkitan nasional ditandai oleh berdirinya Budi Utomo pada tanggal 20 Mei 1908 di Jakarta. Perkumpulan ini memelopori berbagai perkumpulan lain di tanah air, yaitu:

1. Yang bercorak nasionalistis: Indische Partij (1912), Indische Vereniging (1908) yang kemudian menjadinIndonesische Vereeniging (1922) dan perhimpunan Indonesia (1925), PNI (1927), Partindo dan PNI baru (1931), Persatuan Bangsa Indonesia (PBI, 1924) yang kemudian berfusi dengan BU menjadi Parindra (1935). Pada dasarnya Partai-partai ini menghendaki Negara yang bercorak sekuler (memisahkan agama dari urusan Negara).

2. Yang bercorak Islam: Sarekat Dagang Islam (1911) yang kemudian menjadi Sarekat Islam (1912) dan Partai Sarikat Islam Indonesia (1930), Mohammadiyah (1912), Partai Islam Indonesia (1931). Pada dasarnya perkumpulan ini menghendaki Negara merdeka berdasarkan Islam.

3. Yang bercorak Marxistis: ISDV (1914) yang pada tahun 1920 menjadi PKI atau ISDP (Indische Sociaal Democratische Partij, 1918). PKi menghendaki Negara komunis, SDAP menghendaki Negara sosialis yang demokratik.

Dari uraian di atas nyata bahwa pada zaman penjajahan Belanda berkembang tiga paham politik: Nasionalisme murni, Islamisme, dan Marxisme. Dalam tahun 1923 sebenarnya bertambah dengan satu partai lagi, yaitu PPKD (Pakempalan Politik Katolik Djawi atau Perkumpulan Politik Katolik Jawa) yang pada tahun 1930 berkembang menjadi PPKI (Perkumpulan Politik Katolik Indonesia). Asas Katolik memang menjiwai perkumpulan ini, namun ia dapat digolongkan ke partai dengan golongan nasionalisme murni, karena memang memperjuangkan Negara kebangsaan.

Kenyataan tersebut menunjukkan bahwa orang Indonesia memang Bhinneka, akan tetapi pengalaman sejarah telah menjadikan mereka tunggal dalam kebangsaan,seperti dinyatakan oleh para pemuda dalam Sumpah Pemuda tahun 1928.

Dari anggaran dasar berbagai pergerakan itu kita dapat menemukan sifat dasar mereka yang berkemanusiaan, sehingga berbagai unsur kesukuan dan ras tidak menjadi faktor penghalang. Dari tujuan yang hendak dicapai, kitadapat menemukan perjuangan mereka untuk membentuk masyarakat yang sejahtera seluruh anggotanya, yang dalam bahasa sekarang berarti perjuangan untuk mewujudkan keadilan social. Untuk mencapai tujuan itu mereka menginginkan untuk pemerintahan yang demokratis, yang menyertakan rakyat didalamya. Semua ini merupakan pandangan politik yang boleh disebut modern

Dengan pandangan yang demikian itu jiwa keagamaan bangsa Indonesia tidaklah lenyap. Semangat keagamaan bangsa Indonesia tetap hidup, sehingga pada masanya nanti akan dirumuskan menjadi Ketuhanan Yang Maha Esa. Proses modernisasi tidak berakibat terkesampingnya hidup rohani.

I.5.2 Proklamasi Kemerdekaan

Penyerbuan Jepang mengakhiri pemerintahan colonial Belanda pada tahun 1942, Jepang berkuasa di Indonesia selama 3 ½ tahun. Namun demikian, banyak yang dialami bangsa Indonesia selama masa penjajahan Jepang itu. Hidup keagamaan terganggu, karena upaya Jepangisasi. Gereja sering berubah fungsinya demi kepentingan perang Jepang. Namun semangat keagamaan tidak mengendor.

Penindasan Jepang yang di luar batas justru menyadarkan bangsa Indonesia akan pentingnya pengembangan nilai kemanusiaan. Penindasan itu juga menyebabkan jiwa setiakawan berkorban. Ini membuat bangsa Indonesia semakin bersatu, karena merasa senasib-sepenanggungan. Pemakaian bahasa Indonesia yang luas akibat politik bahasa pemerintahan Jepang memberikan sumbangan yang baik bagi penggalangan persatuan bangsa Indonesia.

Pemerintahan militer Jepang yang selalu mau menang sendiri menyadarkan bangsa Indonesia akan baiknya demokrasi, pemerintah rakyat dengan permusyawaratan. Penderitaan luar biasa yang dialami bangsa Indonesia selama penjajahan Jepang mendorong makin giatnya perjuangan untuk mempercepat datangnya kemerdekaan, karena hanya dengan kemerdekaan ada kebebasan untuk mewujudkan keadilan social bagi seluruh rakyat Indonesia.

Betapapun Jepang dinilai jahat, akan tetapi penjajahan Jepang di Indonesia toh di anggap mempercepat datangnya kemerdekaan. Pemerintah Jepang juga membuka jalan bagi percepatan kemerdekaan itu antara lain dengan mendirikan BPUPKI dan PPKI.

BPUPKI menyiapkan rancangan (konsepsi) dasar Negara Pancasila dan rancangan undang-undang dasar, yang pada tanggal 18 Agustus 1945 dengan sedikit perubahan ditetapkan menjadi dasar Negara dan UUD yang sah. Setelah BPUPKI menyelesaikan pekerjaannya, badan ini diganti oleh PPKI.

PPKI ini dibentuk untuk mempersiapkan dan menyelanggarakan pemindahan kekuasaan dari tangan Jepang ke tangan Indonesia. Karena itu dalam kesempatan pertama yang diperoleh para pemimpin Indonesia sesudah Jepang menyerah, maka mereka kemudian memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945. Ternyata yang ambil bagian dalam penyelenggaraan proklamasi bukan saja para anggita PPKI melainkan juga banyak ornag lain, antaranya para pemuda seperti Adam Malik, Chaerul Saleh dan Sukarni.

Setelah proklamasi diselenggarakan pada tanggal 17 Agustus, maka PPKI pada tanggal 18 Agustus mengambil keputusan penting antara lain:

1.Menetapkan UUD, yang kemudian disebut UUD Proklamasi atau UUD 1945.

2. Memilih Ir.Soekarno dan Drs. Moh. Hatta masing-masing menjadi Presiden dan Wakil Presiden RI.

Kegiatan BPUPKI dan PPKI memperlihatkan dijunjung tingginya nilai persatuan, kerukuna atau kerjasama oleh berbagai orang atau kelompok yang terlibat. Dalam BPUPKI issue pokoknya adalah dasar Negara: Islam atau kebangsaan murni yang netral terhadap agama. Kesepakatan yang dicapai, berkat jasa Sukarno, adalah penerimaan Pancasila menjadi dasar dan ideology bangsa dan Negara. Dengan ini Indonesia bukan Negara agama, tetapi juga bukan Negara sekuler, melainkan Negara Pancasila, Negara demokrasi yang berketuhanan.

Dalam peristiwa proklamasi kita juga melihat dijunjung tingginya nilai persatuan itu oleh golongan pemuda dan pemimpin Indonesia generasi tua. Semula mereka berselisih pendapat tentangcara dan waktu penyelenggaraan Proklamasi, sampai-sampai terjadi “penculikan Rengasdengklok” dini hari tanggal 16 Agustus 1945. Akan tetapi semangat persatuan yang dijiwai oleh rasa kebangsaan menjadi motivasi bagi kedua golongan itu sehingga sampai kepada kesepakatan juga dalam menyelenggarakan proklamasi, untuk mendirikan negara kebangsaan. Peristiwa Rengasdengklok mendorong golongan tua untuk cepat bertindak memproklamasikan kemerdekaan Indonesia.

D. Nilai-nilai Pancasila Jaman Reformasi

Karena Orde Baru tidak mengambil pelajaran dari pengalaman sejarah pemerintahan sebelumnya, akhirnya kekuasaan Orde Baru pada akhir 1990-an runtuh oleh kekuatan masyarakat. Hal itu memberikan peluang bagi bangsa Indonesia untuk membenahi dirinya, terutama bagaimana belajar lagi dari sejarah agar Pancasila sebagai ideologi dan falsafah negara benar-benar diwujudkan secara nyata dalam kehidupan sehari-hari. Sementara itu, UUD sebagai penjabaran Pancasila dan sekaligus merupakan kontrak sosial di antara sesama warga negara untuk mengatur kehidupan bernegara sudah mengalami perubahan agar sesuai dengan tuntutan dan perubahan zaman. Karena itu pula orde yang oleh sementara kalangan disebut sebagai Orde Reformasi melakukan aneka perubahan mendasar guna membangun tata pemerintahan yang baru.

Namun, upaya untuk menyalakan semangat Pancasila tidak mudah dilakukan. Bahkan, ada kesan bahwa sejalan dengan runtuhnya pemerintahan Orde Baru yang selalu mengikutsertakan Pancasila itu, masyarakat terkesan sungkan meskipun hanya sekedar menyebut Pancasila. Hal itu juga menunjukkan bahwa Pancasila sebagai ideologi bangsa dan negara tidak hanya namanya saja yang sudah dipakai lagi, melainkan sudah mengalami penurunan kredibilitas dari masyarakat yang luar biasa. Hal tersebut mengakibatkan menipisnya rasa solidaritas terhadap sesama, elit politik yang selalu berlomba-lomba merebut kekuasaan, dan lain-lain. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika mereka menghalalkan segala cara untuk mewujudkan kepentingan yang dianggap berguna untuk diri sendiri atau kelompoknya.

E. Cara Membangkitkan Pancasila Sekarang Ini

Saat ini, nilai-nilai Pancasila semakin luntur, terutama terhadap remaja sekarang ini. Karena itu, bagi bangsa Indonesia tidak ada pilihan lain selain mengembangkan nilai-nilai Pancasila agar keragaman bangsa dapat dijabarkan sesuai dengan prinsip Bhinneka Tunggal Ika.

Dalam hubungan itu, perlu pula dikemukakan bahwa persatuan dan kesatuan bangsa bukan lagi suatu penyeragaman melainkan suatu bentuk dari suatu yang satu dalam kebhinekaan. Pluralitas juga harus dapat diwujudkan dalam suatu struktur kekuasaan yang memberikan kewenangan kepada daerah untuk mengelola kekuasaan agar dapat diperoleh elit politik yang lebih rumit serta peka terhadap aspirasi masyarakat. Sejarah telah memberikan pelajaran yang sangat berharga bahwa konsep persatuan dan kesatuan yang memusatkan kewenangan kepada pemerintah pusat dalam implementasinya ternyata lebih merupakan upaya penyeragaman dan membuahkan kesewenang-wenangan serta ketidakadilan.

Nasionalisme yang merupakan identitas nasional yang dilakukan oleh negara melalui indoktrinasi dan memanipulasi simbol-simbol dan ritual yang mencerminkan supremasi negara tidak dapat dilakukan lagi. Negara bukan lagi sebagai satu-satunya aktor dalam menentukan identitas nasional. Hal ini juga seirama dengan semakin kompleksnya tantangan global, masyarakat merasa berhak menentukan bentuk dan isi gagasan apa yang disebut negara kesatuan yang sesuai dengan perkembangan dan tuntutan zaman.

Sementara itu, perubahan paling mendasar terhadap UUD 45 adalah bagaimana prinsip kedaulatan rakyat yang pengaturannya sangat kompleks dalam sistem kehidupan demokrasi dapat dituangkan dalam suatu konstitusi. Hal itu harus dilakukan secara rinci dan disertai dengan rumusan yang jelas agar tidak terjadi multi interpretasi sebagaimana terjadi pada masa lalu. Upaya tersebut telah dilakukan dengan membuat amandemen UUD 45 antara lain yang berkenaan dengan pembatasan jabatan Presiden/Wakil Presiden sebanyak dua periode, pemilihan Presiden dan Wakil Presiden serta Kepala Daerah secara langsung, pembentukan parlemen dua kamar (Dewan Perwakilan Rakyat dan Dewan Perwakilan Daerah), pembentukan Mahkamah Konstitusi, pembentukan Komisi Yudisial, mekanisme pemberhentian seorang Presiden dan/Wakil Presiden dan lain sebagainya. Namun sayangnya perubahan tersebut tidak dilakukan secara komprehensif dan berdasarkan prinsip-prinsip konstitusionalisme sehingga meskipun telah dilakukan perubahan empat kali, ternyata UUD Tahun 1945 masih mengandung beberapa kekurangan.

Pengalaman selama lebih kurang setengah abad praktek-praktek kenegaraan yang menyeleweng dari Pancasila telah mengakibatkan berbagai tragedi bangsa harus dijadikan pelajaran yang sangat berharga agar tidak terulang kembali. Akibat lain adalah ketertinggalan bangsa dibandingkan dengan negara-negara lain karena bangsa Indonesia selalu disibukkan dengan masalah-masalah internal bangsa seperti kesewenangan-wenangan penguasa, pelanggaran HAM, disintegrasi bangsa serta hal-hal yang tidak produktif lainnya sehingga tidak heran jika bangsa Indonesia kalah bersaing dengan bangsa-bangsa lain. Untuk bangkit dari keterpurukan tidak ada pilihan lain bagi bangsa Indonesia, pertama-tama dan terutama harus kembali kepada Pancasila sebagai falsafah dan ideologi bangsa. Caranya adalah para pemimpin bangsa dan negara tidak hanya mengucapkan Pancasila dan UUD 45 dalam pidato-pidato, tetapi mempraktekkan nilai-nilai Pancasila dalam  kehidupan kenegaraan serta kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, kesaktian Pancasila bukan hanya diwujudkan dalam bentuk seremonial, melainkan benar-benar bisa dirasakan langsung oleh masyarakat.

Kesimpulan

Dari penjelasan di atas, kami dapat menarik beberapa kesimpulan. Drs. Paulus Wahana dalam modulnya mengatakan bahwa nilai tidak dapat terwujud dalam dunia inderawi. Nilai membutuhkan sesuatu untuk menjelmakannya sebagai pembawa nilai (carrier of value). Nilai menjadi nyata ketika diwujudkan dan melekat sebagai kualitas pada barang/ keadaan/ peristiwa/ pribadi/ tindakan yang bernilai.

Nilai juga merupakan suatu kualitas yang telah ada dan dapat ditangkap dan dirasakan manusia sebelum mengalaminya dalam dunia inderawi. Selain itu, nilai juga tidak berubah seiring dengan perubahan pembawa nilai; nilai tidak berubah dan bersifat absolut.

Kemudian, dalam hubungannya dengan topik yang kami jelaskan, yaitu menggali nilai-nilai Pancasila dalam struktur budaya Indonesia, kami juga menjelaskan mengenai tahap perkembangan budaya yang ada di Indonesia dan nilai-nilai Pancasila terdapat di dalamnya. Berikut adalah pembagian tahap-tahap perkembangan budaya yang ada di Indonesia menurut Drs. Paulus Wahana:

1. Tahap Kebudayaan Indonesia Asli

2. Tahap Perkembangan Pengaruh Budaya Hindu

3. Tahap Perkembangan Pengaruh Budaya Islam

4. Tahap Perkembangan Pengaruh Budaya Kristen dan Barat

5. Tahap Mencari Bentuk Kebudayaan Nasional Indonesia

Menurut kelompok kami, ada hal yang saling tumpang tindih. Maksudnya, Drs. Paulus Wahana melihat adanya nilai Pancasila dalam tahap-tahap perkembangan budaza di atas. Namun, kelompok kami juga melihat bahwa nilai-nilai Pancasila juga dapat membentuk budaya-budaya tersebut.

Pada Tahap Kebudayaan Indonesia Asli, para ahli sejarah dan antropologi dapat memperlihatkan bahwa sebelum kebudayaan Hindu masuk dan berkembang di Indonesia, berbagai suku bangsa Indonesia telah mengenal unsur-unsur pembentuk Pancasila. Nilai-nilai kehidupan yang dapat disebut sebagai embrio nilai-nilai Pancasila ternyata memang sudah nampak pada tahap perkembangan ini, baik yang berhubungan dengan ketuhanan maupun kesejahteraan sosial.

Kemudian, unsur Pancasila pada tahap perkembangan pengaruh budaya Hindu. Budaya Hindu juga berpengaruh di beberapa aspek kehidupan. Yang paling jelas, pengaruh itu nampak dalam hal agama. Mereka secara lebih nyata memuja kekuatan yang mengatasi manusia, yang tidak lagi tanpa bentuk.

Selanjutnya, pada tahap perkembangan pengaruh budaya Islam. Pada akhir abad XIII, pengaruh Islam di Indonesia tampak. Perkembangan Islam di Indonesia baru menjadi luas setelah runtuhnya Majapahit pada abad XV. Pengaruh budaza Islam juga jelas nampak dari bidang agama. Namun, kita juga melihat bahwa adanya kesejahteraan sosial melalui ajaran yang terdapat dalam agama Islam, yaitu diwajibkannya melakukan zakat fitrah terjadap sesama.

Selain itu, pada tahap perkembangan pengaruh budaya Kristen dan Barat. Abad XV dan XVI memang dikenal sebagai abad penjelajahan karena orang-orang Barat dengan keberanian dan kecerdikan menjelajah berbagai samudera untuk menemukan negri-negri baru. Penjelajahan itu dilatarbelakangi oleh beberapa faktor, dari bidang perdagangan, agama, maupun sekedar petualangan. Penjelajahan itu juga dapat mengakibatkan timbulnya semangat untuk menjajah suatu wilayah.

Yang terakhir adalah menggali unsur Pancasila pada tahap mencari bentuk kebudayaan nasional Indonesia. Menurut Drs. Paulus Wahana, pada zaman penjajahan Belanda berkembang tiga paham politik: Nasionalisme, Islamisme, dan Marxisme. Kenyataan tersebut menunjukkan bahwa orang Indonesia memang Bhinneka, akan tetapi pengalaman sejarah telah menjadikan mereka tunggal dalam kebangsaan, seperti dinyatakan oleh para pemuda dalam Sumpah Pemuda tahun 1928.

Pada intinya, kami menyimpulkan bahwa dalam nilai-nilai Pancasila dapat kita temui dalam struktur budaya Indonesia yang ada. Nilai-nilai Pancasila memang tidak berwujud secara nyata namun hal tersebut jelas telah terbentuk tanpa kita sadari secara nyata. Dan, kita pula yang membentuknya. Kita pun tidak bisa menyalahkan nilai apabila ada hal yang bertentangan dengan hal yang seharusnya.


Daftar Pustaka

Wahana, Paulus. Bahan Kuliah Pendidikan Pancasila Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. 2002. Yogyakarta.

http://www.setneg.go.id/favicon.ico

http://www.dephan.go.id

Kehadiran Greenpeace di Indonesia

A. Pendahuluan

Greenpeace merupakan organisasi kampanye yang independen, yang menggunakan konfrontasi kreatif dan tanpa kekerasan untuk mengungkapkan masalah lingkungan hidup, serta mendorong solusi yang diperlukan untuk masa depan yang hijau dan damai. Dalam setiap melakukan aksinya, Greenpeace bersandar pada ideologi penyelamatan lingkungan dan kelompok kami mengkategorikan itu termasuk dalam ideologi ekologisme. Untuk itu, kami akan memberikan beberapa pandangan mengenai ekologisme terlebih dahulu di awal pembahasan.

Secara khusus, kelompok kami membahas mengenai kehadiran Greenpeace di Indonesia, lebih tepatnya mengenai Greenpeace Indonesia (GI) sendiri yang baru didirikan sekitar Bulan Juli tahun 2005 yang lalu. Kehadiran GI memang tergolong terlambat karena Greenpeace Internasional sendiri sudah ada sejak tahun 1971 yang lalu.

GI mempunyai tujuan untuk mendukung gerakan lingkungan yang sudah ada melalui Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang berorientasi pada lingkungan hidup, seperti WALHI, MANUSIA (Masyarakat Antinuklir Indonesia) dan LSM lainnya. Selama ini kerusakan lingkungan hidup jarang mendapatkan perhatian serius dari pemerintah. Oleh karena itu, GI ingin mengajak masyarakat Indonesia untuk menjaga lingkungan hidup dengan melindungi hak-hak lingkungan, menghentikan kejahatan lingkungan, tidak melakukan eksploitasi terhadap lingkungan hidup, dan juga memberikan solusi yang terbaik demi terwujudnya pembangunan yang bersih.

Menurut kelompok kami, kehadiran GI saat ini belum begitu berkembang dengan pesat seperti Greenpeace yang ada di negara luar lainnya, khususnya seperti negara-negara di Eropa maupun Amerika. Kegiatan yang dilakukan oleh GI pun belum mendapat dukungan secara maksimal. Oleh karena itu, kelompok kami akan mencoba menganalisis mengapa kehadiran Greenpeace di Indonesia (GI, khususnya) belum begitu mendapat perhatian yang maksimal.

Kami akan mencoba menganalisis dari beberapa contoh kasus yang ada berdasarkan kegiatan-kegiatan yang telah GI lakukan.

B. Ekologisme

Dalam Reader Pengantar Ilmu Politik yang kami dapat, menyebutkan tiga pandangan mengenai ekologi politik atau ekologisme.

Pertama, pandangan bahwa akar ekologisme ditemukan di mana saja dan kapan saja manusia berpikir atau bertindak dfengan cara yang sama dengan cara yang didukung oleh gerakan hijau modern. Menurut pandangan ini, para pemburu, misalnya, yang mengembara di bumi sekitar 10.000 tahun yang lalu hidup berdampingan dengan cara yang tidak eksploitatif dengan lingkungan mereka dan hanya mengambil dari bumi untuk memenuhi kebutuhan pokoknya. Mereka juga dituntun oleh pandangan bahwa alam memiliki nilainya sendiri, bukan sekedar memiliki nilai karena bermanfaat bagi manusia. Dalam persoalan inilah manusia Paleolitik mendekati sentimen hijau modern dan oleh karena itu kadang-kadang dianggap sebagai perintis ekologi politik.

Kaum romantik abad ke-18 dan 19 di seluruh Eropa bereaksi terhadap apa yang mereka pandang sebagai dampak industriliasasi cepat yang menuntut dijalinnya kembali hubungan antara manusia dan alam. Para penyair aliran romantik menulis tentang alam sebagai sumber moral dan nilai estetika, dan menekankan kesatuan antara manusia dan alam yang telah dihancurkan oleh industrialisasi. Pandangan-pandangan seperti “kembali ke alam” jelas merupakan bagian dari ideologi hijau kontemporer.

Kedua, pandangan tentang sejarah ekologisme dimulai pada ilmuwan abad ke-19 yang mengembangkan pendapat terkenal dari Thomas Maltus (1776-1834) bahwa jumlah penduduk bertambah secara geometris sementara produksi makanan hanya bertambah secara aritmatis sehingga mengakibatkan kelaparan yang meluas. Pandangan ini melahirkan kesadaran akan kemungkinan terjadinya kelangkaan sumber daya dan energi.

Ketiga, pandangan tentang asal usul ekologisme mempertimbangkan pendapat tadi dan menekankan kekhususan sejarah ekologisme: pelbagai bencana lingkungan sudah menyertai kita sejak dulu, namun bencana yang ditimbulkan oleh manusia baru saat ini memuncak sebagai ancaman bagi integritas dan kompleksitas sistem pendukung kehidupan global. Tanpa kemungkinan tersebut, menurut pandangan ini, ekologisme dengan jalinan uraian dan seruan ekonomi dan politiknya tidak akan ada. Saat ini, gerakan ekologi menjadi gerakan global yang digerakkan oleh ideologi dengan implikasi-implikasi global.

C. Latar Belakang Greenpeace

Greenpeace internasional sendiri dimulai pada tahun 1971, dengan dimotivasi oleh visi mereka atas dunia yang hijau dan damai. Greenpeace dipelopori oleh sebuah kelompok kecil dari para aktifis pelayaran dari Vancouver, Kanada, dengan kapal penangkap ikan yang sudah tua. Para aktivis ini, pendiri Greenpeace, percaya bahwa beberapa individu bisa membuat sesuatu yang beda.

Misi mereka adalah “bear witness” – atau yang menjadi saksi dan merekam pengrusakan lingkungan. Pada awalnya, misi ini dipakai dalam aksi protes atas pengujian nuklir di Amchitka, lepas pantai bagian barat Alaska. Prinsip aksi langhsung ini bersama dengan konfrontasi damai merupakan patokan dari tiap kampanye Greenpeace. Misi “bear witness” inilah yang kemudian menjadi salah satu prinsip dasar Greenpeace.

Saat ini, Greenpeace merupakan sebuah organisasi internasional yang memprioritaskan kampanye lingkungan global. Greenpeace internasional berpusat di Amsterdam, Belanda dan Greenpeace telah mempunyai 2,8 juta pendukung di seluruh dunia dan kantor nasional serta daerah di 41 negara, termasuk negara-negara di Asia dan Asia Tenggara.

Setelah mengembangkan Greenpeace di Asia pada akhir tahun 80-an dan awal 90-an, Greenpeace mulai berkembang di wilayah Asia Tenggara. Greenpeace Asia Tenggara secara resmi didirikan pada tanggal 1 Maret 2000. Misi dari Greenpeace Asia Tenggara adalah: “Melindungi hak-hak lingkungan, mengekspos dan menghentikan kejahatan lingkungan, serta mengedepankan pembangunan bersih”.

Jika kita membandingkan antara misi Greenpeace Asia Tenggara dengan Greenpeace internasional, misi Greenpeace Asia Tenggara lebih mengalami pengembangan dan perluasan dari prinsip dasar, yaitu “bearing witness”. Dalam misi Greenpeace Asia Tenggara, Greenpeace tidak hanya menjadi saksi saja dari segala tindak kejahatan lingkungan, tetapi segera menghentikan dan mengedepankan pembangunan yang bersih. Hal tersebut memberi makna bahwa Greenpeace Asia Tenggara juga memberikan solusi untuk mengatasi segala kejahatan lingkungan demi mewujudkan pembangunan yang bersih.

Untuk langkah awal, Greenpeace Asia Tenggara fokus kepada negara-negara kepulauan yang ada di wilayah Asia Tenggara itu sendiri, khususnya negara Indonesia dan Filipina. Greenpeace Indonesia sendiri (GI) bermarkas di Bogor dan Direktur Eksekutif Greenpeace wilayah Asia Tenggara dipegang oleh orang Indonesia sendiri, yaitu Ibu Emmy Hafild.

Menurut Website Tempo Interaktif, keberadaan Greenpece di Indonesia sebenarnya sudah dirintis sejak Juli tahun lalu (2005) di Bogor. Namun, selama ini aksi kampanye mereka belum beroperasi secara maksimal. Oleh karena itu, pada hari Jum’at tanggal 24 November 2006 lalu kantor perwakilan GI resmi didirikan di Jakarta, tepatnya di Jalan Cimandiri No. 24, Jakarta Pusat. Dengan berdirinya kantor perwakilan Indonesia, Greenpeace sudah memiliki 32 kantor.

Emmy Hafid mengutarakan pentingnya keberadaan GI, yaitu untuk mendukung gerakan lingkungan yang sudah ada. Apalagi, selama ini kerusakan lingkungan hidup jarang mendapatakan perhatian serius dari pemerintah.

Menurut menteri Negara Lingkungan Hidup, Rahmat Witoelar, “Negara kepulauan kita (Indonesia) sama seperti negara-negara berkembang lainnya, sangat rentan terhadap dampak perubahan iklim. Kenaikan tinggi permukaan laut, kejadian iklim yang ekstrim, banjir dan kekeringan sudah menyerang kita”.

Ditambah lagi, Emmy Hafild mengungkapkan bahwa Indonesia harus mengurangi sebanyak mungkin penggunaan bahan bakar fosil serta praktek-praktek penebangan yang mereka – yang jika digabungkan menjadikan Indonesia sebagai negara pembuang emisi gas rumah kaca terbanyak nomor 4 di dunia. Oleh karena itu, pemerintah harus mengambil tindakan tegas mengenai isu tersebut.

D. Kegiatan Greenpeace di Indonesia

Pada dasarnya, Greenpeace berpegang pada prinsip aksi tanpa kekerasan (non violence direct action), hal itu semata-mata untuk mengembalikan hak-hak sipil masyarakat. Dalam melakukan aksinya, Greenpeace bersandar pada ideologi penyelamatan lingkungan.

Banyak kegiatan penyelamatan lingkungan yang telah dilakukan Grenpeace Internasional maupun Greenpeace Indonesia sendiri. Kami akan memberikan beberapa contoh kegiatan yang telah dilakukan oleh GI.

Yang pertama, GI bersama LSM lingkuhan hidup yang lain, seperti WALHI (Friends of the Earth Indonesia) dan MANUSIA (Masyarakat Antinuklir Indonesia), menyerukan kepada pemerintah Indonesia menghentikan upaya-upaya untuk mengembangkan energi nuklir di Indonesia. Aksi tersebut dilakukan pada tanggal 10 November 2006 yang lalu. Ketiga LSM tersebut mengkritik perjanjian kerjasama program nuklir yang ditandatangani oleh pemerintah Indonesia dan Australia.

Mereka menyanggah pernyataan yang mengatakan bahwa program pengembangan nuklir tersebut dilakukan dengan tujuan damai dan dalam rangka kerjasama di bidang keamanan Indonesia-Australia. Mereka berpendapat bahwa, efek yang akan timbul dari program nuklir itu tidaklah hanya keamanan semata. Di kemudian hari, nuklir dapat menimbulkan terjadinya pelepasan radiasi yang mematikan dalam jumlah besar ke lingkungan. Materi radioaktif dapat secara terus menerus dibuang ke udara dan air. Hal itulah yang membuat penyebaran radiasi secara cepat dan meluas. Yang menjadi masalah utamanya adalah mengenai pembuangan limbah radioaktif.

Kegiatan lain yang mereka lakukan adalah mengadakan aksi damai di Departemen Kehutanan pada tanggal 11 Desember 2006 yang lalu. Greenpeace meminta agar mencabut “Izin Membunuh Hutan” yang diberikan pemerintah kepada HPH (Hak Pengusahaan Hutan). Greenpeace menuntut pemerintah untuk mencegah kerusakan hutan lebih lanjut, dengan mencabut izin yang sudah ada dan berhenti memberikan izin baru bagi HPH.

Kegiatan yang ketiga, pada tanggal 2 Februari 2007 yang lalu, GI mengadakan Kampanye Energi Bersih dengan menyelenggarakan pameran yang berjudul “Clean Energy [R]evolution” di Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Pemeran tersebut dibuka oleh Menteri Negara Lingkungan Hidup, Rahmat Witoelar. Tujuan dari pameran itu adalah untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat umum mengenai bahaya energi kotor, terutama pembangkit listrik tenaga nuklir dan batubara, dampak dari perubahan iklim, serta memberikan solusi untuk menerapkan penggunaan energi yang dapat diperbaharui dan efiensi energi dalam kehidupan sehari-hari. Pameran yang berlangsung selama enam bulan itu, juga diadakan di Bandung, Semarang, Jepara, Surabaya, dan Denpasar.

Selain itu, di Bulan Desember ini Greenpeace akan mengadakan KTT mengenai perubahan iklim. KTT itu akan diadakan pada tanggal 3 – 14 Desember 2007 di Bali.

Semua kegiatan itu dilakukan Greenpeace tanpa bergantung pada sokongan dana pemerintah maupun perusahaan. Sejak tahun 1971, Greenpeace hanya mengandalkan dukungan dana dari masyarakat maupun lembaga tertentu.

E. Analisis

Kelompok kami mencoba melakukan analisis mengapa kehadiran Greenpeace di Indonesia, khususnya GI sendiri, tidak begitu berkembang dengan pesat seperti Greenpeace yang ada di negara-negara Eropa ataupun Amerika. Menurut pendapat kami, hal tersebut disebabkan karena kurangnya dukungan politis kepada pihak Greenpeace sendiri, khususnya dari pihak pemerintah sendiri. Pemerintah sendiri lebih mementingkan persoalan ekonomi daripada masalah konservasi lingkungan. Pendapat kami dapat diperkuat dari dua kegiatan yang telah dilakukan oleh GI, yaitu kegiatan pertama dan kedua yang telah dijelaskan di subbab kegiatan Greenpeace.

Kegiatan pertama mengenai aksi protes terhadap perjanjian pengembangan nuklir oleh Indonesia-Australia. Hal tersebut jelas mengabaikan partisipasi masyarakat termasuk ketentuan yang tercantum di dalam UU No. 10/1997 tentang Ketenaganukliran sehingga berlawanan dengan proses demokratisasi yang saat ini sedang berlangsung di Indonesia.

Program pengembangan nuklir itu akan menjadi bagian dari perjanjian yang disebut Kerangka Kerjasama Keamanan Indonesia-Australia. Pemerintah mengharapkan keamanan energi dari diadakannya program ini. Namun tampaknya, banyak sisi negatif yang dihasilkan oleh tenaga nuklir. Misalnya, dari masalah radiasi nuklir yang dapat meluar melalui udara dan air sampai masalah pembuangan limbah radioaktif nantinya. Sebagai bukti dampak negatif yang ditimbulkan oleh nuklir adalah masalah kebocoran reaktor (sarana atau pembangkit tenaga) nuklir di Chernobyl yang telah terjadi pada tahun 1986.

Perjanjian itu akan membuat Indonesia mengalami ketergantungan terhadap sumber energi dari luar dan akan mempersulit tercapainya keamanan energi seperti yang diharapkan oleh pemerintah. Pemerintah Indonesia tidak berpikir ke depan bagaimana nanti dampak yang akan ditimbulkan bagi lingkungan. Pemerintah Australia pun menutup mata dan hanya mementingkan bisnis uranium semata.

Kegiatan kedua, Greenpeace meminta agar mencabut “Izin Membunuh Hutan” yang diberikan pemerintah kepada HPH (Hak Pengusahaan Hutan). Greenpeace menuntut pemerintah untuk mencegah kerusakan hutan lebih lanjut, dengan mencabut izin yang sudah ada dan berhenti memberikan izin baru bagi HPH. Greenpeace merasa bahwa bagaimana Indonesia dapat melestarikan hutan yang sudah semakin terpuruk ini kalau pihak yang berwenang – dalam hal ini adalah Departemen Kehutanan. justru membiarkan para pengusaha untuk kembali menebang hutan.

Departemen Kehutanan harus bertanggung jawab atas kerusakan hutan Indonesia dengan pemeberian izin operasi bagi HPH yang pada kenyataannya merupakan izin membunuh hutan kita. Pemerintah harus bertindak tegas sebelum Indonesia semakin kehilangan hutan sebab Indonesia telah kehilangan lebih dari 72% wilayah hutan alam dan 40% dari tutupan hutannya hancur sama sekali. Kasus tersebut senada dengan kasus di Dumai mengenai hutan Indonesia yang sudah tidak dilestraikan lagi.

Menurut artikel “Perlu Perubahan Fundamental Menyelamatkan Hutan” yang ditulis pada tanggal 2 Desember 2007 dalam website www.riautoday.com pemberian HPH kepada pengusaha itu sebenarnya sudah dimulai sejak 1967 melalui UU Pokok Kehutanan No. 5/1967. Kemudian Undang-Undang tersebut direvisi dengan UU Kehutanan No. 41/1999 karena UU No. 5/1967 itu hanya menekankan kepentingan produksi. Maka, lahirlah UU No. 41/1999 yang sedikit lebih baik karena sudah mulai memperhitungkan konservasi dan partisipasi masyarakat (Nurrochmat, 2005 dalam www.riauserantau.com ). Namun, UU No. 41/1999 pun belum berpihak kepada rakyat sepenuhnya karena hanya menekankan produksi, wajar jika hutan Indonesia dikelola seperti halnya pengelolaan tambang (mining management), sehingga aspek kelestarian berada di titik terendah, sementara kegiatan penebangan berada di titik tertinggi (Irawan, 2005 dalam www.riauserantau.com). Jadi, yang mendapat keuntungan tetap dari pihak pengusaha.

Dari pernyatan di atas, dapat kami analisis bahwa pemerintah sendiri masih mendukung kaum kapitalis, di mana mereka mengeksploitasi lingkungan demi kepentingan produksi mereka. Dan dalam hal ini, mereka mengabaikan konservasi hutan demi melancarkan produksi mereka (industrialisasi). Hal tersebut jelas bertentangan dengan ideologi yang dipakai oleh Greenpeace, yang lebih mementingkan kondisi lingkungan.

Oleh karena itu, dapat kami analisis ideologi ekologisme yang dipakai oleh Greenpeace merupakan ekologisme yang dilihat dari pandangan kedua. Hal tersebut dikarenakan pandangan kedua memperlihatkan kita banyaknya pemikiran yang berhubungan dengan alam dan mengingatkan kita akan kemungkinan adanya perlawanan antara ekologisme dengan paham kapitalis atau industrialisasi (dalam kehidupan modern). Jadi, bisa saja pihak Greenpeace kurang menyukai tindakan para kaum kapitalis yang seringkali mengeksploitasi lingkungan hidup untuk kepentingan produksi mereka. Sebagai contoh, P.T. Kayu Lapis Indonesia telah dicap oleh Greenpeace sebagai pembunuh hutan di Papua. Greenpeace yakin bahwa pelanggaran peraturan kehutanan seperti yang dilakukan oleh kayu Lapis Indonesia merupakan hal yang umum dilakukan juga oleh HPH lainnya di Indonesia.

F. Kesimpulan

Ada beberapa hal yang dapat kami simpulkan dari makalah ini. Yang pertama adalah mengenai Greenpeace, dan khususnya mengenai Greenpeace Indonesia (GI) sendiri. Greenpeace merupakan organisasi (Non Goverment Organization) kampanye yang independen dan dalam aksinya, Greenpeace menggunakan konfrontasi kreatif dan tanpa kekerasan (non violence direct action). Menurut analisa kelompok kami, Greenpeace menggunakan ideologi penyelamatan lingkungan dalam kampanyenya. Hal tersebut dikarenakan GI sendiri hadir untuk mengungkapkan masalah lingkungan hidup serta mendorong solusi yang diperlukan untuk masa depan yang hijau dan damai. Ideologi tersebut kami kategorikan sebagai ideologi ekologisme dengan memakai pandangan kedua.

Dalam kegiatannya, GI menentang adanya eksploitasi terhadap lingkungan, khususnya terhadap kaum kapitalis. Kaum kapitalis cenderung mengesampingkan persoalan konservasi lingkungan. Mereka lebih mementingkan kepentingan produksi mereka daripada dampaknya terhadap keseimbangan lingkungan. Misalnya saja, kelestarian hutan mulai terabaikan akibat penebangan liar yang besar-besaran oleh pemilik izin HPH. Padahal, yang akan mendapat keuntungan produksi nantinya adalah para kaum kapitalis itu sendiri dan penguasa; bukan masyarakat sipil.

Menurut kelompok kami, untuk masalah izin penebangan hutan kepada HPH sebaiknya kuasa untuk mengeluarkan izin harus diseimbangi dengan kuasa untuk menjaga hutan dan masyarakat kita dari kerusakan yang semakin parah ini. Selain itu, pemerintah sendiri juga perlu bertindak tegas dalam menegakkan suatu aturan perundang-undangan. Peraturan diharapkan tidak memihak kepada kaum pengusaha, tetapi lebih kepada konservasi lingkungan dan hak-hak masyrakat sipil lainnya untuk menikmati lingkungan yang bersih, hijau, dan damai serta bebas dari pengeksploitasian lingkungan.

DAFTAR PUSTAKA

Reader Pengantar Ilmu Politik

Website:

Anonim, “Perlu Perubahan Fundamental Menyelamatkan Hutan” ,

< website Grenpeace Asia Tenggara, <http://www.greenpeace.org/>

“The History of Greenpeace”, website Greenpeace Indonesia: http://www.greenpeace.or.id

Mata Kuliah Film dan Sinema: The Vulnerable Male pada Sosok Koboi

Pengantar

Sering kali seorang pria kerap kali direpresentasikan dengan sosok yang gagah, kuat, sosok yang selalu benar, identik dengan sosok seorang pahlawan (Kolker, 2002). Namun, permasalahn gender tersebut dapat dipatahkan dengan adanya konsep the Vulnerable Man in Film. Konsep ini merupakan turunan dari cultural studies yang dimiliki oleh Birmmingham School. The Vulnerable Man in Film menjelaskan adanya karakteristik dari seorang tokoh pria yang mempunyai sisi feminim di balik maskulinitas yang ditonjolkan dalam cerita film tersebut. Pria juga dapat digambarkan dengan seseorang yang memiliki karakteristik yang sensitif, mementingkan aspek emosional, dan rapuh atau mudah terluka (vulnerable).

Dengan menggunakan konsep tersebut, maka penulis akan mengkaji Film Brokeback Mountain. Hal tersebut dikarenakan adanya sisi vulnerable yang ditampilkan oleh dua tokoh utama dalam film tersebut, yaitu Ennis del Mar (Heath Ledger) dan koboi rodeo Jack Twist (Jake Gyllenhaal). Di balik sisi maskulinitas mereka sebagai seorang koboi, ternyata mereka juga menekankan sisi sensitivitas, emosi (perasaan), dan kerapuhan akan perasaan yang berada dalam jiwa mereka. Hal ini pun telah nampak saat adegan mereka pertama kali ketika mereka berdua bertemu pertama kali dan enggan memulai pembicaraan pada saat melamar pekerjaan. Hal tersebut juga membuat mereka tampak lebih vulnerable dalam hal memulai percakapan (vulnerable by speaking first)  http://www.ejumpcut.org).

Oleh karena itu, penulis akan menganalisis konsep The Vulnerable Man dalam Film Brokeback Mountain dengan mengambil landasan metodologi narravite. Dengan begitu, analisis yang akan dikaji dilihat berdasarkan alur cerita (mencakup setting yang digunakan) dan karakteristik dari salah satu tokoh utama yang berada dalam film tersebut, yaitu Ennis del Mar.


Permasalahan

Permasalahan yang ingin dikaji adalah bagaimana menganalisa konsep the Vulnerable Man pada sosok koboi dalam Film Brokeback Mountain. Permasalahan tersebut muncul karena film tersebut menggambarkan sosok seorang koboi yang notabene merupakan pria yang gagah, macho, dan gentle, ternyata mempunyai perasaan emosional yang tinggi, apalagi di film tersebut semakin dikisahkan bahwa sepasang koboi tersebut menjalin asmara yang begitu mendalam dengan rekan sesama jenisnya. Unsur ironi dalam film tersebut pun semakin ditampakkan dalam alur cerita percintaan mereka. Pengambilan setting yang berada pada tahun 1960-an sampai dengan 1980-an pun semakin mendukung konsep yang ada. Pada tahun tersebut Amerika sendiri belum mengenal adanya istilah homoseksual, dan sejenisnya. Oleh karena itu, apa yang kedua tokoh tersebut lakukan merupakan hal yang janggal di antara masyarakat yang lain. Ennis pun sempat merasa takut jika ada orang lain yang mengetahui tentang kejanggalan yang ada pada dirinya itu. Setting tersebut juga membawa suatu pemahaman masyarkat bahwa sosok koboi identik dengan sosok yang gagah dan gentle namun, film ini menggambarkan sosok yang feminim, emosional, dan vulnerable.

Oleh karena itu, penulis akan mengkaji permasalahan yang ada dengan landasan berpikir film sebagai narrative, yaitu dengan melihat konsep the vulnerable man dari alur cerita (yang mencakup setting) karena hal tersebut merupakan bagian dari unit konteks dalam teori analisis isi  http://d.scribd.com/docs/1yhjdkl2w4454lh…). Dengan melihat setting yang dipakai, maka akan nampak jelas konteks seperti apa yang terdapat dalam film tersebut. Selain itu, penulis juga akan melihat dari karakteristik salah satu tokoh utama yang ada, yaitu Ennis del Mar. Hal tersebut dikarenakan tokoh tersebut merupakan tokoh utama yang muncul sampai film selesai sedangkan Jack Twist, diceritakan tewas akibat kecelakaan.


Kerangka Konsep

ANALISIS ISI (Oleh: Pawit M. Yusup)

Analisis isi (content analysis) mempunyai beberapa pengertian, seperti dicantumkan di bawah ini (Bailey, 1987):

(1) Analisis isi merupakan teknik penelitian untuk mendeskripsikan secara kuantitatif, objektif, dan sistematik, dari isi komunikasi (Berelson, 1954).

(2) Analisis isi adalah suatu teknik penelitian untuk membuat perujukan pengenalan karakteristik tertentu di dalam teks secara sistematik dan objektif (Stone, et.al., 1966).

(3) Pada uraian tertentu kita mengusulkan penggunaan istilah ‘content analysis’ dan ‘coding’ secara bergantian guna menunjukkan deskripsi kuantitatif, sistematik, dan objektif, dari suatu prilaku simbolik (Cartwrigt, 1953).

Berikut konsep analisis isi dari mulai tujuan, sampling, kategori, unit rekaman, unit konteks, dan sistem enumerasi. Tujuan analisis isi: Analisis isi bisa dikatakan ekuivalen dengan studi dokumen untuk penelitian survey. Di sini digunakan hipotesis formal dan sampel luas yang dilukiskan secara ilmiah serta dapat dianalisis dengan menggunakan bantuan teknik statistik modern, bahkan dengan bantuan komputer. Dengan demikian, tujuan dari analisis isi meliputi semua bidang spesialisasi yang sebenarnya juga tercakup dalam penelitian survey. Selain itu, analisis isi juga mempunyai beberapa tujuan khusus seperti determinasi (penentuan) kepengarangan bagi dokumen yang ditulisnya yang bisa dipertanyakan. Di samping pengujian hipotesis, Holsti (dalam Bailey, 1987), mendaftar tujuh tujuan analisis isi, yakni sebagai berikut:

(1) Untuk menjelaskan kecenderungan isi komunikasi

(2) Untuk menjelaskan karakteristik yang diketahui dari sumber-sumber kepada pesan-pesan yang dihasilkan

(3) Untuk memeriksa atau mengaudit isi komunikasi terhadap standar yang berlaku

(4) Untuk menganalisis teknik persuasi

(5) Untuk menganalisis gaya suatu tulisan

(6) Untuk menghubungkan atribut (sifat dan perlengkapan) yang diketahui dari audiens kepada pesan-pesan yang dihasilkan bagi mereka

(7) Untuk menjelaskan pola-pola komunikasi.

Analisis isi pada dasarnya memiliki proses yang sama seperti observasi berstruktur yang sudah digambarkan di bagian yang lalu. Masing-masing studi mengharuskan peneliti untuk membuat ceklis terhadap prilaku-prilaku khusus. Dan kelompok atau kategori dalam ceklis tadi merupakan klasifikasi nominal yang bersifat mutually exclusive, yakni setiap prilaku hanya didaftar dalam satu kategori. Analisis isi sifatnya sama dengan analisis berstruktur yang diterapkan pada dokumen, dan bukannya pada observasi prilaku nonverbal. Setidaknya ada lima tugas pokok dalam menghadapi teknik analisis isi ini, yakni sebagai berikut:

(1) Gambarkan sampel-sampel dokumen

(2) Batasi isi kategori. Isi yang ada bergantung kepada tujuan studi

(3) Batasi unit rekamannya

(4) Batasi unit konteksnya

(5) Batasi sistem enumerasinya.


NARRATIVE THEORY

Di bawah pengaruh film modern praktis, permasalahan politik dan cultural menjadi inspirasi teori yang muncul pada tahun 1960 dan 1970-an, kritik film pun mengenai ideology fungsionalis sinema mulai dipertanyakan secara sistematis. Realism klasik menjadi salah satu dari bagian yang diinvestigasi. Dalam halaman Jurnal British, Screen, Colin MacCabe adalah representative dari perkembangan resistensi melawan gagasan dari realism klasik, sebuah resistensi oleh Marxist Perancis dan teori psychoanalisis, khususnya mengenai karya dari Louis Althusser dan Jacques Lacan. McCabe dan lainnya berpendapat bahwa sinema tidak dapat mengungkapkan kenyataan yang diandaikan bahwa ada jendela yang tranparant dan bisa melihat dunia apa adanya. Sering kali, film harus dianalisis sebagai kesatuan tulisan yang kontradiksi secara general. Para theorist pun menekankan pada analisa jarak yang luas mengenai tanda yang ketidak bersambungan dalam film yang realist, yang mana telah menjadi dominan dalam estetika narrative cinema, tetapi juga memperbaharui perhatian yang ditujukan pada film yang menghancurkan norma realism klasik dan kemudian kembali dengan mudah gagasan mengenai realisme tersebut dikonsumsi.

Jurnal Perancis, Cahiers du cinéma telah menyiapkan perhatian mengenai hal di atas pada akhir 1960-an dan awal 1970-an, bersiap-siap menjauhi dari narrative cinema yang konvensional dan mengarah ke bentuk cinema verité yang lebih termarginalisasi, sinema politik Third World, dan khususnya narrative percobaan oleh Jean-Marie Straub (b. 1933), Danièle Huillet (b. 1936), and Jean-Luc Godard (b. 1930). Tout va bien (All’s Well, 1972), yang mana membuka dengan satu scene yang di dalamnya Godard menulis checks untuk menutupi kebutuhan dari produksi film, hal tersebut menjadi suatu contoh film untuk mengkritik penyerangan narratives realism klasik. Hal tersebut secara konstan menyatakan itu adalah konstruksi alami, itu pada lahirnya perhatian terhadap hal itu sendiri dengan keputusan politik dan ekonomi yang terjadi setiap hari, hal yersebut dibentuk oleh adanya sebuah kolektif (the Dziga Vertov Group), and menentang norma representasional dari pembuatan film dokumenter dan fiksi. Berdasarkan point ini, Cahiers du cinéma sangat aktif menentang norma narrative konvensional yang dapat menghentikan penulisan review dari beberapa film komersial. Banyak yang meningkatkan kesadaran politik teori naratif yang membanggakan dirinya sendiri pada pemikiran dasar Marxist yang tegas, tetapi orang lain, termasuk sutradara François Truffaut ( 1932-1984), berpendapat bahwa itu telah menjadi sangat menganut paham elit dan artikel itu tidak dapat ditembus oleh seseorang yang tidak bergelar Ph.D. dalam ilmu pengetahuan politis. Ceramah kritik dan teori film telah masuk suatu tahap baru, yang lebih akademis dan yang menarik dalam menuntut perubahan di bidang linguistik, filosofi, dan psikoanalisa.

Salah satu pergeseran yang paling penting dalam analisa naratif dimulai pada tahun 1960-an dengan ahli teori Perancis, Kristen Metz, yang membangun teori linguistik, termasuk juga Ferdinand de Saussure, yang membawa analisis struktural ke dalam ilmu pengetahuan film. Metz, bersama dengan Roland Barthes, menetapkan dasar untuk beberapa karya dalam aspek naratif, termasuk pergeseran ke arah analisa ceramah. Dengan mengadopsi metodologi dari bidang semiotics, Metz mulai mencari bagaimana bioskop bisa dikatakan sesuatu yang menandakan, atau menghasilkan suatu makna. Makna tersebut merupakan suatu proses dinamis yang tergantung pada material signifiers, yang (mana) untuk bioskop sendiri, meliputi representational gambaran, sebutan/judul, berbicara bahasa, memecahkan, dan musik dan cakupan mereka mengenai yang ditandai, atau makna denotative dan connotative. Signifying practice menjadi istilah untuk bagaimana film menceritakan sesuatu. Metz yang memulai dengan evaluasi cinematic dengan bahasa dan secara sistematis menggambarkan kode dalam karya-karya di bioskop, banyak seperti Roland Barthes dalam menggambarkan kode dalam literatur. Dengan S/Z (1970) khususnya, Barthes menunjukkan bahwa realisme tergantung di atas sistem textual, intertextual, dan extratextual kode. Analisa naratif harus meliputi merinci suatu kode arti/pengertian teks, tetapi juga melibatkan dan memperhatikan pembatasan dan konteks budaya.

Asumsinya adalah bahasa itu adalah suatu kekuatan sosial yang berjuang untuk membentuk bagaimana kita harus berpikir dan bertindak. Sedangkan realisme merupakan suatu mode yang telah ditentukan secara budaya, ideologis, dan penonton atau pembaca harus berjuang untuk memecahkan kode dari sistem teks atau berjuang untuk menyerapnya hingga menemukan suatu logika. Film realis telah diserang untuk strategi penyamarannya yang khayal dan dibuat seperti alami. Metz dan yang lain mulai untuk menganalisa keyakinan mengenai “impression of reality“, yang dihasilkan oleh isyarat cinematic yang kuat, dan langkah kedua mengenai structuralisme, lebih tertarik akan intertextual dan extratextual kode spectatorship dan ideologi, yang menjadi komponen pusat dari teori naratif.

Pada tahun 1970-an dan 1980-an, banyak ahli teori naratif yang terus meningkat dan bergeser dari menjelaskan kejadian yang naratif, ke menjelaskan proses mengenal sebagai suatu kabar. Seorang ahli linguistik yang berpengaruh adalah Émil Benveniste. Bagi Benveniste, cerita (histoire) mencoba untuk menyembunyikan tanda komunikasinya, memperkenalkan dirinya sendiri dalam sesuatu yang bukan perseorangan, cara yang objektif. Sebagai pembanding, tulisan juga termasuk dalam narasi. Dalam literatur, perbedaan bisa disederhanakan menuju ke apakah penceritaan menggambarkan informasi tersebut sebagai fakta yang diberikan atau sebagai acuan referensi kepada seorang narator, seperti dalam ” I-You.” Proses penyampaian, ucapan, dan struktur penonton berhubungan dengan teks tersebut. Yang diumumkan selalu suatu produk ucapan/kabar, yang (mana), [seperti;suka] bahasa, adalah suatu proses sosial. Analis membongkar tanda komunikasi ini, yang (mana).

Penonton tidak hanya digambarkan oleh struktur visual dari film bioskop, tetapi naratif juga yang dievaluasi, mengenai bagaimana mereka memperkuat atau menantang isu budaya yang dominan. Jika penonton diposisikan secara visual, mereka juga diposisikan secara cultural di dalam struktur simbolis atau yang mythic dari ideologi yang dominan.

Sementara itu sebagian besar teori yang telah ada, seperti enunciation theories of narrative, psikoanalisa, dan studi budaya, semakin berkembang dan juga berfungsi untuk menginformasikan studi film. Oleh karena itu, dapat mengurangi analisa naratif untuk bertindak sebagai gejala sosial yang lebih luas. Beberapa ahli teori naratif, termasuk Seymour Chatman, yang memusatkan pada proses pengisahan sinematik. Pada intertextualas dan naratif, banyak diilhami oleh ahli teori yang berkaitan dengan kesusasteraan Gérard Genette, hal tersebut membuktikan adanya hubungan dengan studi film. Ditambah lagi, ahli teori dan sejarawan David Bordwell berargumentasi bahwa teori enunciation juga sangat berperan terhadap komunikasi lisan untuk secara penuh dapat digunakan untuk pengalaman yang cinematic tersebut. Perspektif yang baru ini sudah mendorong penyelidikan mengenai film yang naratif dan menghadapi tantangan ke teori spectatorship terbaru. Banyak ahli teori naratif menolak untuk mengurangi penonton ke arah pasif, mengantisipasi hal yang pokok, tetapi lebih mengarah ke peserta yang aktif dalam memproduksi suatu pemaknaan. Oleh karena itu, aspek kognitif telah benar-benar menjadi landasan dalam pemikiran film secara naratif, yang mempunyai hubungan dengan mewujudkan model pemahaman dan persepsi manusia.

The Vulnerable Male in Film (Kolker, 2002)

Banyak film dari dekade menguji pertanyaan mengenai gender (seperti yang mereka lakukan dengan masalah rasial) dengan beberapa keadaan yang genting dan kompleksitas. Mereka mampu untuk mengambil hysteria dari komunis. Banyak dari mereka membuat kombinasi naratif ketakutan budaya yang menarik dari kecocokan, keluar dari kenakalan anak-anak (yang mana budaya diciptakan sebagai satu cara atau lebih untuk member kesan yang buruk pada hal itu sendiri mengenai apa yang terjadi dengan masculinity, sementara itu ada pembuatan alasan lain untuk mengkritik media massa), keluar dari peringatan mengenai gender bahwa beberapa hal mengubah stereotype lama dari sosok pria yang sebagai pahlawan dan kasar. Beberapa dari film, seperti A Place in the Sun (George Stevens, 1951) and The Man in The Gray Flannel Suit (Nunnally Johnson, 1956), menampilkan karakter pria sebagai orang yang pasif, sensitive, dan vulnerability (mudah terluka) diambil dari karakteristik dan atribut biasanya diasosiasikan dengan karakter perempuan.

Beberapa aktor film setelah perang – Montgomery Clift, James Dean, Morlon Brando, dan Paul Newman, dalam film-film seperti A Place in The Sun, Rebel Without a cause (Nicholas Ray, 1995), The Wild One (Laslo Benedek, 1954), dan The Left-handed Gun ( Arthur Penn, 1958 ) – menggambarkan suatu pencarian dari cara baru suatu ekspresi di bawah penyamaran sensitivitas. Gaya acting mereka dianggap bertentangan dengan film yang konvensional, peran mereka pun lebih menekan rasa amarah dan mengenai sexualitas dari budaya secara luas. Misalnya saja pada film The Wild One Marlon Brando berperan sebagai biker dengan jiwa yang sangat sensitive, yang dalam salah satu scene, menyendiri dengan motornya dalam suatu malam. The Wild One juga memperhitungkan gerakan bawah tanah untuk dilarang di Negara Inggris untuk beberapa tahun, tetapi ketertarikkan itu tidak begitu tampak dalam aspek pemberontakkan dari karakteristik pria tersebut, tetapi nampak dalam ekspresi marah dan pasif yang ambigu. Walaupun gang motor itu berkelahi, representasi masculinity dalam film tersebut bermain melawan heroism dan kekuatan yang kuno. Namun, saat karakter pria tersebut dibuat menjadi lebih feminism, justru film tersebut tampak atraktif dan membuat penasaran.

Film vertigo sendiri bukanlah film yang mengenai pemberontakkan. Film tersebut juga tidak mengkaji secara eksplisit mengenai ketakutan atau pertikaian mengenai gerakan komunis. Film tersebut justru menceritakan seorang pria separuh baya yang mempunyai masalah mengenai tekanan sexual dan keputusasaan, hingga mengenai kematian orang lain di sekitarnya. Seperti The Man in the Gray Flannel Suit dan Nicholas Ray’s Bigger Than Life (1956), merupakan film yang memperhatikan aspek perbudakan dan pengkhianatan, dengan kekuatan dan passivity, domination, dan perbudakan, serta sexual panic. Hal tersebut dapat mengarahkan semua perhatian dan budaya secara umum dari sesuatu yang kurang lengkap, kekosongan, dan sesuatu yang belum selesai dari urusan personal seseorang. Hal itu cukup menyentuh, secara tidak langsung, apalagi pada saat terjadinya Perang Dingin, adanya obsesi diri untuk bertahan. Budaya politik dari tahun 50-an pun digambarkan dengan adanya pertahanan dari ancaman komunis. Film Vertigo mempersonalisasikan urusan politik dengan membuat gambaran seorang pria secara mendalam, lengkap dengan ketakutan dan hidupnya yang dikendalikan oleh keinginannya.

Peran seorang pahlawan (hero), sangat dekat terikat dengan permasalahan masculinity dalam beberapa budaya, dan hal tersebut selalu dipertanyakan. Hal tersebut telah dipertanyakan pada tahun 50-an dan kembali dipertanyakan pada tahun 80-an. Catatan mengenai pria yang kuat, bermoral, selalu benar, dan berani, yang akan membersihkan seluruh budaya mengenai yang jahat dan melawan kekerasan. Setelah Perang Dunia II, dasar pemikiran mengenai heroism telah diukur dalam film.

Untuk memahami reprentasi tokoh pahlawan dalam beberapa film maka perlu adanya pendekatan naratif, yang mana menentukan cara bicara mereka mengenai pengalaman yang contemporary. Misalnya saja pada Film Vertigo, dengan kegelapan di dalamnya, struktur yang ironic, merupakan narrative yang modern. Modernitas sendiri merupakan suatu gerakan dari kemajuan teknologi, meningkatnya urbanisasi, fragmentasi dari ketergantungan yang pesat, bersatunya struktur-struktur, seperti sebuah keluarga, agama, rasa atau suku yang dominan, dan pemerintahan, seiring dengan berkurangnya agen individual (merupakan klimaks dari tahun 70-an dan 80-an). Respon terhadap modernitas direpresentasikan dalam berbagai cara, termasuk dalam cerita budaya itu sendiri. Film dan televisi membawa ketakutan kita pada perhatian kita, yang kadang-kadang berlawanan, kadang-kadang mencoba untuk menghilangkan ketakutan tersebut dengan narratives mengenai kekuatan takdir, rintangan-rintangan, dan juga dengan mencoba untuk menguatkan kembali emosi yang telah hilang. Pada tahun 50-an, film science fiction berbicara mengenai terror dengan serangan alien (hal ini dapat diumpamakan dengan “ancaman komunis”). Melodrama sendiri kembali diangkat untuk mengkonfirmasi kekuatan individu yang hilang dengan melibatkan unsur keluarga atau unsur mengenai ikatan pernikahan yang telah dikaruniai anak. Hal tersebut memperlihatkan adanya perlawanan mengai modernitas yang menjunjung tinggi nilai individualis, walaupun tetap bagaimana sebuah keluarga (yang vulnerable) mempertahankan ikatannya di masa modern ini. Film Vertigo sendiri merupakan wujud penegasan dari disintegration keluarga dan individu dari modernitas yang tidak biasa. Vertigo mempunyai elemen romantis dan menyentuh dari suatu fantasi yang disuguhkan. Tetapi, sebagian besar tetap fokus dengan munculnya aspek pria modern.


Pembahasan

  1. Alur cerita (setting)

  • Tahun 1963 – 1980’s (Amerika Serikat)

Film Brokeback Mountain memakai tahun 1963 dan Amerika Serikat sebagai latar cerita. Pada tahun tersebutl, diceritakan Ennis dan Jack pertama kali bertemu. Pada tahun tersebut, kata ‘gay’ memang belum populer, bahkan mungkin belum ada.  http://queerindonesia.blogspot.com). Namun, hubungan mereka tetap berlanjut setelah sempat berpisah dan masing-masing telah beristri dan mempunyai anak pada tahun 1980-an (mempertahankan hubungan hingga 20 tahun), jauh setelah gerakan-gerakan kaum gay mulai bermunculan di Amerika, untuk menuntut persamaan hak.

Bahkan, ketika mereka bertemu lagi setelah empat tahun berpisah, Ennis masih berkata, “Aku tahu aku bukan begitu…” Jauh sebelum itu, ketika mereka baru pertama kali terlibat dalam pengalaman seksual berdua, masing-masing menegaskan diri dengan perkataan, “Aku bukan banci.” Tetapi, apa yang bergejolak di dalam hati tak bisa diingkari. Hal tersebut membuktikan bahwa mereka tetap ingin mempertahankan apa yang mereka inginkan. Sama halnya dengan Film Vertigo yang dicontohkan dalam Kolker (2002). Film tersebut membuat gambaran seorang pria secara mendalam, lengkap dengan ketakutan dan hidupnya yang dikendalikan oleh keinginannya. Begitu juga dengan penceritaan dalam Brokeback Mountain yang menggambarkan ketakutan untuk mempertahankan hubungan yang telah dijalin oleh Ennis dan Jack sampai kapanpun tanpa ada orang lain yang mengetahui bahwa mereka saling mencintai. Hal ini membuat kisah percintaan mereka semakin ironi dan menunjukkan bagaimana kekuatan emsional mereka mempertahankan hubungan mereka selama dua puluh tahun. Dan pola cerita yang ironic tersebut merupakan bagian dari teori naratif film.

“… struktur yang ironic, merupakan salah satu bentuk narrative yang modern…

(Kolker, 2002)”

Dalam masa rentang setting waktu ini, maka dapat memperlihatkan bahwa sosok pria yang selalu digambarkan sebagai sosok yang gagah, kuat, rasional, dan gentle dapat digeser dengan adanya interpretasi yang berbeda dari Film Brokeback Mountain ini.

  • Sosok Koboi sebagai Penyamaran

Masih berhubungan dengan rentang waktu sekitar tahun 1963-1980, gambaran seorang koboi dipilih untuk menghiasi cerita tersebut. namun, penulis melihat bahwa sosok koboi justru dipakai sebagai kedok penyamaran dari sensitivitas yang ada. Pada era tahun itu, sosok koboi pun masih dikenal dalam masyarakat, sebagai sosok pria yang tangguh, penggembala yang penuh dengan kesendirian, dan gentle (http://theory-of-chaos.blogspot.com). Bahkan, sekitar 50 tahun yang lalu, di Amerika terdapat sebuah kampanye iklan rokok milik Philip Morris Company, yang memperkenalkan istilah “Malboro Man”. Perusahaan tersebut memperkenalkan sosok koboi yang identik dengan individualisme dan maskulinitas, serta dekat dengan produk kematian, yaitu rokok (The Marketing of Evil dalam WorldNetDaily.com).

Namun dalam Film Brokeback Mountain, digambarkan sosok koboi yang penuh dengan perasaan emosional, sosok yang bertentangan dengan sosok individualis dan maskulin dari gambaran yang telah dibentuk oleh masyarakat sebelumnya. Dua tokoh koboi yang ada dalam film tersebut terikat oleh pernikahan dan bahkan menjalin hubungan percintaan dengan kaum sesama jenis. Dengan demikian, vulnerable yang ditampilkan dalam film tersebut sangat bertentangan dengan apa yang saat itu (tahun 1963-1980) terjadi secara nyata.

“…They (Brokeback Mountain’s makers) do it by raping the “Marlboro Man,” that revered American symbol of rugged individualism and masculinity.”

(Kupelian, David. 2008. WorldNetDaily.com)

Film itu pun akhirnya membuka paradigma baru dalam masyarakat Amerika, khususnya, bahwa dapat ditemukan sosok koboi “yang lain”. Apalagi, film yang diangkat berdasarkan novel karya Prouxl ini berasal dari hasil observasi sosial yang ada di Amerika. Image koboi pun mengalami pergeseran makna seiring dengan adanya fenomena yang diangkat oleh Film Brokeback Mountain itu sendiri. Dengan adanya pemaknaan baru yang dihasilkan, maka muncul adanya kontroversi. Tentu saja hal tersebut perlu adanya tinjauan ulang dari sudut pemikiran yang kompleks agar memahami maksud pesan yang disampaikan secara menyeluruh, dan tidak hanya dengan memakai satu sudut pandang saja.

Karakteristik Ernis del Mar

  • Kekuatan Emosional yang Dominan

Karakteristik yang digambarkan dari seorang Ennis tidak jauh berbeda dengan Jack Twist. Namun, Ennis tetap dianggap sebagai tokoh sentral dalam film tersebut. Hal tersebut dapat dibuktikan di akhir cerita yang menggambarkan bahwa Ennis adalah seseorang yang kehilangan Jack, seorang korban dari homophobic attack pada tahun 1983.

By film’s end, it became clear that Ennis was the central character, left to grapple with the loss of Jack, a victim of a homophobic attack in 1983.”

(Boucher, Leigh ; Pinto, Sarah. “I ain’t queer”: love, masculinity and history in Brokeback Mountain. The Journal of Men’s Studies.2007)

Hanya saja, ada yang tampak berbeda pada saat pertama kali dia bertemu dengan Jack ketika ingin melamar pekerjaan. Ennis cukup menggambarkan sosok seorang yang maskulin, pada saat dia menceritakan tentang hidupnya yang menyendiri (individualis) dan menggambarkan tipe orang yang mampu bertahan dalam menjalani rintangan hidup.

Namun, karakter Ennis semakin berkembang saat dia mulai terlibat dengan pengalaman seks-nya dengan Jack saat mereka berdua sudah mulai terisolasi di daerah pegunungan sambil menjaga domba-domba gembalaan mereka. Mereka berdua yang waktu itu dalam keadaan mabuk, larut dalam suasana hingga mulai bergumul dalam sebuah tenda. Keesokkan paginya pun Ennis mengatakan kepada Jack bahwa dia bukanlah seorang banci. Namun, perlahan-lahan Ennis sendiri tidak dapat memungkiri perasaanya bahwa dia juga telah terjebak dengan kisah cintanya dengan Jack, padahal dia berencana menikah dengan tunangannya, yaitu Alma. Seiring waktu berjalan dan semakin menjalin hubungan interpersonal yang erat, Ennis pun menjadi terikat dengan Jack.

Kekuatan emosional Ennis kembali muncul saat dia dan jack berpisah setelah menjalani pekerjaannya selama musim panas tersebut. Jack secara terang-terangan menanyakan apa rencana Ennis selanjutnya, dan apakah berniat melakukan pekerjaan menggembala domba di tahun depan. Namun, Ennis tampak bersikap dingin. Dia hanya menjawab bahwa dia akan menikah dan mungkin akan berpindah tempat. Akhirnya, mereka berdua pun pulang dengan jalannya masing-masing. Namun, apa yang terlihat membuat cerita tersebut semakin mengandung ironi. Di balik kaca spion mobilnya, Jack melihat sosok Ennis yang berjalan sendirian. Sedangkan Ennis, dia sendiri tidak mampu meneruskan perjalanannya pulang. Dia pun memasuki suatu gang dan justru menangis karena sebenarnya dia tidak menahan perasaan bahwa dia juga sebenarnya tidak ingin berpisah dengan Jack, walau dia telah mengatakan bahwa dia bukanlah seorang banci atau gay sekali pun. Tetapi, dia tetap menyimpan perasaan terhadap Jack lebih dari apapun  http://www.ejumpcut.org).

Ketika keduanya bertemu lagi (empat tahun kemudian), pertautan perasaan di antara mereka makin menebal bahkan sampai membuat Ennis, dalam bahasa Serat Centhini, “melupakan kenikmatan tubuh istrinya”  http://queerindonesia.blogspot.com). Hingga akhirnya rumah tangga Ennis pun bubar dan api asmaranya untuk Jack makin berkobar. Mulai ada rasa cemburu, yang memuncak dengan pertengkaran ketika Ennis bertanya apakah Jack pernah ke Meksiko. Proulx melukiskan pentingnya pembicaraan ini: Meksiko adalah tempatnya. Ennis pernah mendengarnya. Dia melangar batas sekarang, dan mulai memasuki topik berbahaya. Ada rasa curiga dan sensitivitas dari Ennis; karakter yang diasosiasikan dengan karakter perempuan (Kolker, 2002).

Tidak dapat dielakkan, selama mereka berpisah dan tidak bertemu lagi, Jack pernah berhubungan seks dengan lelaki lain, di Meksiko. Ennis pun marah, tetapi Jack tidak mau disalahkan karena Jack memang akan membutuhkan sosok Ennis dalam hidupnya walaupun dia juga telah mempunyai seorang istri dan seorang anak.

Ironi-ironi yang ada dalam cerita tersebut pun kembali mempunyai makna di dalamnya. Film Brokeback Mountain yang diambil dari novel karya Proulx ini telah menampilkan sosok gay yang berbeda dengan cerita-cerita homoseksual yang lain. Pada umumnya, homophobia digambarkan dengan sepasang cowok yang jatuh cinta, yang terdiri dari satu pria yang macho dan satu pria yang lemah lembut (Herder, Karl). Namun, apa yang ditampilkan dengan karakter Ennis, maka hal tersebut tidak berlaku. Ennis bukan pria yang sepenuhnya lemah lembut, macho, bahkan pria heteroseksual, seperti tokoh-tokoh gay yang sering dimunculkan dalam film tanah air saat ini. Ennis tidak ragu-ragu saat harus berkelahi dengan dua komplotan preman saat mengganggu dirinya dan istrinya. Dia juga mampu menangis di pelukan Jack saat dia tidak dapat menahan emosinya karena dia pasti akan benar-benar merindukan Jack, jika harus bertemu setiap empat tahun sekali.

Dengan menunjukkan sosok emosional dan sensitivitas dari karakter yang dibentuk oleh Ennis maka sesuai dengan konsep vulnerable yang ada. Sosok seperti itu yang berada di dalam diri Ennis, dibalik sosoknya sebagai seorang koboi peternak. Ironis memang, namun karakter seperti itulah yang semakin membentuk “impression of reality” (Kolker, 2002). Tidak ada unsur yang dipaksakan maupun dibuat-buat. Sosok vulnerable man yang benar-benar diangkat di balik maskulinitas seorang koboi yang telah diakui dalam realitas sosial yang ada.

  • Sifat Individualis Kembali Hadir di Akhir Cerita

Karakter Ennis secara personal tidak menggambarkan sosok koboi yang individualis namun tetap mempertahankan sisi maskulinitas walaupun sering saling tumpah tindih dengan sisi kelembutan akan perasaannya. Sama dengan hal yang telah disebutkan di atas, film Brokeback Mountain memang mencoba menggambarkan sosok lain dalam diri seorang koboi, yang identik dengan maskulinitas dan individualis (David Kupelian, 2008). Namun, terjadi permainan karakter dari Ennis sendiri. Di satu sisi, dia adalah orang yang individualis, dengan cara dia survive akibat ditinggal sanak saudaranya dan bertahan dengan keinginan dan obsesinya sendiri sebagai peternak. Namun, sisi individualis seorang koboi dia langgar dengan terjalinnya ikatan pernikahan dengan tunangannya, Alma. Dalam jurnal online yang ditulis oleh David Kupelian mengatakan bahwa koboi tidak terikat dengan pernikahan dan itu digambarkan secara berbeda oleh Film Brokeback Mountain.

Karakter yang individualis pun masih belum melekat pada karakter yang dibentuk oleh Ennis. Bahkan setelah dia telah bercerai dengan Alma pun, Ennis tetap membutuhkan diri Jack untuk menemani hidupnya. Jack pun tampak gembira dengan kabar perceraian yang dialami oleh Ennis dan segera mengajak Ennis untuk hidup bersama, tinggal di kota yang baru. Namun, Ennis menolak. Masih ada rasa ketakutan yang meliputi perasaan Ennis. Takut jika orang lain mengetahui apa yang ada dalam dirinya, mencintai seorang pria. Ennis pun tidak bisa lepas dari kehidupan social dengan orang-orang sekitar. Dia benar-benar takut jika semua orang yang berada di jalan, menatapnya, dan seolah-olah tahu dengan apa yang dia rasakan terhadap Jack. Ernnis sendiri tidak bisa begitu saja meninggalkan anak-anaknya. Ennis bukan orang yang sepenuhnya inividualis, bertentangan dengan apa yang ada dalam dunia modern ini (Kolker, 2002).

Namun, karakter individualitas Ennis kembali diuji. Setelah dia ditinggal oleh Jack yang tewas karena kecelakaan. Dia pun kembali dan memutuskan untuk kembali menyendiri, padahal sudah ada wanita yang sedang mendekatinya. Namun, tetap saja Ennis memilih untuk hidup sendiri. Bahkan, saat mantan istrinya mengajak untuk menikah kembali, Ennis tetap saja tidak bisa menerimanya. Ditambah lagi, saat anak pertamanya datang untuk meminta ijin ingin menikah dengan orang yang dia cintai. Ennis pun kembali menyadari betapa pentingnya arti pernikahan dengan orang yang dicintai. Di akhir cerita, digambarkan Ennis yang memilih untuk hidup menyendiri, mengenang kebersamaannya dengan Jack. Hal tersebut dibuktikan dengan masih disimpannya foto Brokeback Mountain di balik lemari pakaiannya dan masih disimpannya kemeja milik mereka berdua saat berkelahi di daerah pegunungan waktu itu. Bekas darah mereka berdua pun masih menempel pada siku kemeja tersebut.

Dengan demikian, Ennis memilih untuk hidup dengan kesendiriannya dan mencoba untuk kembali survive dengan segala rintangan yang akan dia hadapi nantinya. Dia tinggal di tempat yang baru, mencoba menjalani hidup baru. Dia pun telah berjanji kepada Jack untuk membawa abu kematiannya di balik gunung, tempat kenangan mereka berdua.


Penutup

Dengan penjabaran yang telah diuraikan di atas, maka jelas sekali konsep the Vulnerable Man muncul dalam Film Brokeback Mountain. Konsep yang menjelaskan bahwa seorang pria tidak hanya digambarkan dengan sisi maskulinnya saja, namun juga menonjolkan sisi sensitivitas, emosional, ketakutan akan perasaan yang mendalam, dan sisi-sisi feminimitas, yang diidentikkan dengan sosok perempuan.

Film Brokeback Mountain memang menyuguhkan konsep vulnerable man dalam alur cerita dari karakteristik tokoh sentral yang ada. Namun, hal tersebut tidak dapat disamakan dengan hal yang berbau kebanci-bancian. Film Brokeback Mountain juga mempertahankan sisi maskulinitas yang ditampilkan dalam sosok seorang koboi – kedok penyamaran dari sensitivitas (Kolker, 2002). Justru, dengan adanya penggambaran yang seperti itu, maka pemahaman akan vulnerable man bukanlah hal yang dipaksakan atau dibuat-buat, melainkan sesuatu yang nampak alami (“impression of reality”).


Daftar Pustaka

Herder, Karl. Indonesian Cinema: National Culture on Screen.

Kolker, Robert. 2002. Film, Form, and Culture. Second Ed. New York: Mc Graw Hill.

Website:

David Kupelian, 2008. ‘Brokeback Mountain’: Rape of the Marlboro Man.

<http://www.worldnetdaily.com/news/article.asp?ARTICLE_ID=48076>

Justin Vicari, Discovering America: reflections on Brokeback Mountain. Jump Cut, No. 49, spring 2007. Jump Cut: A Review of Contemporary Media.
<http://www.ejumpcut.org>

Pawit M. Yusup, ANALISIS ISI.

Queer Indonesia, Brokeback Mountain: Muara Ironi

<http://queerindonesia.blogspot.com>

Boucher, Leigh; Pinto, Sarah. 2007. “I ain’t queer”: love, masculinity and history in Brokeback Mountain. The Journal of Men’s Studies. <http://www.accessmylibrary.com/coms2/summary_0286-33544531_ITM>

Nb:

“hmmmm, sbnrnya teori yg dipake ntu cocoknya analisis wacana, gag to??? enakan analisis dr percakapannya, gt… bingung saia… mklm, lon dpt mata kul analisis isi n framing… jd msh rada ragu dlm pmlhan landasan teori…. tolong mohon bimbingannya.. agar tidak bimbang…”

Teori Komunikasi Uncertainty Reduction Theory

Maria Putih Intan (03257)

Ayu Sekar (03262)

C. Gandes PW (03273)

Katarina Hyber (03281)

Erlin Setyaningsih (03289)

Pengertian

Uncertainty reduction theory atau teori pengurangan ketidakpastian, terkadang juga disebut Initial interction theory. Teori ini diciptakan oleh Charles Berger dan Richard Calabrese pada tahun 1975. Tujuan mereka dalam mengkonstruksikan teori ini adalah untuk menjelaskan bagaimana komunikasi digunakan untuk mengurangi ketidakpastianantara orang asing yang terikat dalam percakapan mereka bersama.

Berger dan Calabrese yakin bahwa ketika orang -orang asing pertama kali bertemu, mereka mula-mula meningkatkan kemampuan untuk bisa memprediksi dalam usaha untuk mengeluarkan perasaan dari pengalaman komunikasi mereka. Prediksi dapat diartikan sebagai kemampuan untuk forecast pilihan perilaku yang mungkin bisa dipilih dari kemungkinan pilihan yang tersedia bagi diri sendiri atau bagi partner relasi. Explanation (keterangan) digunakan untuk menafsirkan makna dari perbuatan masa lalu dari sebuah hubungan. Prediksi dan explanation merupakan dua konsep awal dari dua subproses utama pengurangan ketidakpastian (uncertainty reduction).

Versi umum dari teori ini menyatakan bahwa ada dua tipe dari ketidakpastian dalam perjumpaan pertama yaitu: Cognitive dan behavioral.

  • Cognitive uncertainty merupakan tingkatan ketidakpastian yang diasosiasikan dengan keyakinan dan sikap.
  • Behavioral uncertainty, dilain pihak berkenaan dengan luasnya perilaku yang dapat diprediksikan dalam situasi yang diberikan.

Selanjutnya Berger dan Calabrese (1975) berpendapat bahwa uncertainty reduction memiliki proses yang proaktif dan retroaktif. Uncertainty reduction yang proaktif yaitu ketiaka seseorang berpikir tentang pilihan komunikasi sebelum benar-benar terikat dengan orang lain. Uncertainty reduction yang retroaktif terdiri dari usaha-usaha untuk menerangkan perilaku setelah pertemuan itu sendiri.

Berger dan Calabrese menyatakan bahwa ketidakpastian dihubungkan dengan tujuh konsep lainnya yang berakar pada komunikasi dan perkembangan hubungan. Tujuh konsep itu adalah: verbal output, nonverbal warmth (seperti misalnya nada bicara yang menyenangkan), pencarian informasi (menanyakan pertanyaan), self-disclosure (menyampaikan bagian dari informasi tentang diri sendiri pada orang lain), reciprocity (pertukaran) disclosure, persamaan, dan kegemaran.

Dari aksioma dan teorema URT ditempatkan sebagai pergerakan dinamis dari hubungan antar pribadi dalam initial stage nya.


Assumption of Uncertainty Reduction Theory

Seperti yang sudah disebutkan di bagian sebelumnya, Uncertainty Reduction Theory tidak ada pengecualian. Teori ini meliputi 7 asumsi:

  1. orang – orang tidak berpengalamn dalam mengatur interpersonal
  2. ketidak pastian adalah keengganan, dari pengamatan menghasilkan stress
  3. ketika bertemu orang asing, pertama mengenai pengurangan ketidakpastian atau menambah kemampuan memprediksikan
  4. komunikasi interpersonal adalah proses perkembangan yang terus terjadi
  5. komunikasi interpersonal, pertama bermakna pengurangan ketidakpastian
  6. tabiat dan banyaknya informasi yang orang-orang bagi berubah sepanjang waktu
  7. memprediksikan tingkah laku dalam bentuk undang-undang

Asumsi pertama menjelaskan, dalam mengatur interpersonal orang merasakan ketidakpastian karena adanya perbedaan harapan,memunculkan interpersonal,itu alasan untuk mengakhiri ketidakpastian atau setiap kegelisahan bertemu dengan orang lain.

Asumsi yang kedua mengusulkan bahwa ketidakpastian adalh sebuah tingkatan keengganan. Dengan kata lain, itu membawa persetujuan yang baik dari emosi dan energi psikologi untuk ketidakpastian. Orang-orang yang dalam kerja barunya mengalami stress dengan sekitarnya.

Asumsi ketiga ini menjelaskan kemajuan usul ketika bertemu dengan orang lain. Ini dibagi menjadi 2 hal yaitu:

  1. pengurangan ketidakpastian
  2. penambahan prediksi

Asumsi yang keempat mengusulkan bahwa komunikasi interpersonal adalah proses keterlibatan tingkat perkembangan sesuai dengan Berger dan Calabrese lazimnya percakapan, dimulai dari interaksi orang-orang dalam sebuah tingkat pemasukan, pembatasan dimulai dari tingkat interaksi diantara orang asing.

Asumsi ke-5 dari komunikasi interpersonal yang pertama adalah makana dari pengurangan ketidakpastian, karena di sini komunikasi interpersonal diidentifikasikan fokus pada URT. Asumsi ini datang dari kejutan. URT digambarkan datang dari konteks interpersonal didiskusukan,disini kita mencatat komunikasi interpersonal sebelum terkondisi-mendengarkan,memahami-respon no verbal dan – mengungkapkan kedalam bahasa.

Asumsi keenam ini fokus pada fakta komunikasi interpersonal yang berkembang. URT mempercayai interaksi bermula dari kunci elemen di proses pengembangan.

Asumsi terakhir ini menunjukan tinhgkah laku orang-orang dapat mempridiksi sebuah penampilan. Melihat perbedaan dari prompt theory digunakan untuk ontologies yang berbeda,epistomologi dan axiologies.Untuk menjelaskan tingkah laku komunikasi. Sebaliknya law theories disusun untuk memindahkan dari statements yang berupa prasangka untuk dibenarkan ke statements yang berasal dari kebenaran yang berlaku umum.

Axioms of Reduction Theory

Uncertainty Reduction Theory adalah teori yang dianggap paling benar. Berger dan Calabrese memulai pengertian dengan pengambilan dari suatu kebenaran (axiom) atau kebenaran mutlak menarik dari penelitian masa lalu dan pengertian yang biasa. Axiom ini atau beberapa peneliti membuat pernyataan, bahwa tidak memerlukan lebih lanjut bukti-bukti daripada pernyataan itu sendiri. Berger dan Calabrese memperhitungkan pemikiran axiomatic ini dari peneliti yang pertama (Blalock,1969) yang diakhiri dengan sebab-musabab hubungan persahabatan pada keadaan seharusnya dibentuk dari Axiom. Axiom merupakan jantung dari sebuah teori. Mereka diterima benar karena mereka membangun blok atau penghalang untuk segala sesuatu yang lainnya dalam teori. Tiap Axiom atau kebenaran menunjukan hubungan persahabatan diantaara keraguan (pusat dari konsep teori) dan satu konsep lainnya. URT bermula pada tujuh kedudukan axiom.

Axiom 1

Menyampaikan tingkat tinggi dari memberikan keraguan/Uncertainty pada serangan fase awal sebagai jumlah dari komunikasi verbal diantara pertambahan orang baru level dari Uncertainty untuk setiap interaksi yang ada dalam pengurangan hubungan persahabatan. Lebih lanjtu akan dikurangi jumlah dari kenaikan komunikasi verbal. Ini menyatakan kebalikan atau hubungan negative diantara uncertainty dengan komunikasi verbal.

Keadaan Malcolm dan Edies dengan adanya referensi untuk axiom itu, Teori itu memeliharanya jika mereka berbicara banyak ke yang lainnya, mereka akan lebih pasti kepada yang lainnya.. Lebih lanjut mereka menjadi tahu kebaikan lainnya , mereka akan bicara banyak kepada yang lainnya.

Axiom 2

Seperti pertambahan nonverbal affiliative expressiveness, pengurangan tingkat keraguan merupakan awal pada keadaan interaksi. Penambahan, pengurangan dalam tingkat keraguan akan menyebabkan pertambahan dalam nonverbal affiliative expressiveness. Itu merupakan hubungan negative lainnya.

Axiom 3

Tingkat axiom dari keraguan menyebabkan pertambahan dalam mencari informasi tingkah laku. Tingkat Uncertaity menurun, Mengurangi informasi tingkah laku. Axiom ini meletakkan 4 positive hubungan diantara dua konsep.

Yang mana Axiom ini akaan kita bicarakan belakangan, satu dari banyak kesimpulan dihubungkan dengan URT. Itu memberi kesan Edie akan bertanya dan mencari cara lain menggunakan information-seking seperti dia merasa keraguan tentang Malcolm. Lebih yakin lagi dia merasa kekurangan information-seeking maka dia akan melakukannya. Hal yang sama akan dilakukan kepada malcolm

Axiom 4

Tingkat level dari uncertainty di dalam hubungan menyebabkan pengurangan dalam tingkat keakraban dari communication content. Tingkat rendah dari Uncertainty menghasilkan tingkat kekaraban yang tinggi. Axiom ini mengambil sikap hubungan negative diantara keraguan dan level dari keakraban.

Karena uncertainty relatif tinggi diantara Edie dan Malcolm, mereka menjanjikan dalam pembicaraan kecil dengan tidak penyingkapan sendiri. Keakraban dari komunikasi mereka itu rendah dan tingkat keraguannya tinggi. Axiom keempat ini menyatakan bahwa jika mereka melanjutkan untuk mengurangi keraguan dalam hubungan persahabatan mereka.lalu komunikasi mereka akan terdiri dari tingkat keraban yang tinggi. Catatan Berger, bagaimanapun selama proses self-discloser, interaksi harus membebani kejujuran dari penyingkapan. Apa memungkinkan bahwa individu menurunkan dugaan informasi, Berakhir positif atau berakir negatif? Sungguh tambahan beban mungkin menjadi permasalahan untuk kedua orang dalam sebuah pertemuan.

Axiom 5

Tingkat Uncertainty menghasilkan laju tinggi dari hubungan timbal balik. Tingkat rendah dari uncertainty menghasilkan tingkat rendah dari hubungan timbal balik. Hubungan persahabatan positie diutamakan disini.

Sesuai URT, seperti Edie dan Mlacolm tetap tidak yakin tentang yang lainnya, mereka akan cenderung bercermin kepada tingkah laku yang lainnya. Reciprocity/hubungan timbal balik memberi kesan bahwa jika satu memberikan rincian kecil perorangan, yang lainnya mungkin baik. Sesudah Edie membagi bahwa dia menghilangkan di dalam kelasnya dan dia adalah seorang insinyur dewasa, Malcolm mengungkapkan itu kedewasaan baginya dan bahwa dia mungkin akan memiliki kendala dalam kelas insinyur. Langsung membalas budi orang adalah tanda awal dari pertemuan. Banyak orang berbicara kepada yang lainnya dan membangun hubungan mereka, Banyak dari mereka percaya bahwa hubungan timbal balik akan membentuk beberapa poin. Jika saya tidak memberitahukan suatu benda dari cerminan komunikasimu hari ini. Saya mungkin akan melakukannya lain waktu. Bagian itu dalam pikiran, Pertukaran sempurna menggantikan keseluruhan dari hubungan timbal balik dari suatu hubungan persahabatan.

Axiom 6

Persamaan diantara orang yang mengurangi uncertainty, dengan perbedaan menambahkan uncertainty. Axiom ini menyatakan hubungan persahabatan negative.

Karena Edie dan Malcolm, keduanya merupakan murid di Urban University, mereka mungkin mempunyai persamaan untuk mengurangi beberapa uncertainty mereka tentang yang lainnya. Meraka punya perbedaan ji\enis kelamin dan punya perbedaaan kedewasan yang mungkin menyebabkan tingkat uncertainty mereka.

Axiom 7

Kenaikan dalam tingkat Uncertainty menghasilkan pengurangan dalam kegemaran mengurangi uncertainty menghasilkan kegemaran. Hubungan negative lainnya diletakkan dalam axiom ini.

Seperti Adie dan Malcolm yang mengurangi uncertaity mereka, tipe mereka akan menaikkan kegemaran mereka kepada yang lainnya. Jika mereka melanjutkan rasa uncertainty yang tinggi kepada yang lain, permasalahan mereka tidak akan seperti yang lainnya.

Axiom ini didapat dari beberapa indirect empirical support. Dalam pembelajaran menguji hubungan persahabatan di antara communication satisfaction dan uncertainty production, James Neulip dan Erika Grohskop menemukan bahwa partisipan pewawancara dalam peran permainan organisasi pekerjaan peminta.

Seperti pada ke tujuh axiom, kamu dapat merasakan sifat dari URT. Berdasarkan axiom ini, Berger dan Calabrese memberikan nomor dari Theorems (generalisasi yang dibuktikan untuk memperoleh pembenaran), atau pernyataan teoritikal. Teori Axiom menggabungkan sepasang Axiom untuk mengahsilkan theorem. Mengikuti proses logika deduktif: Jika A diceritakan pada B dan B diceritakan pada C, kemudian A diceritakan oleh C

Berger dan Calabrese menggabungkan tujuh axiom dalam setiap kemungkinan pasangan untuk mendapat 21 theorems. Pada tingkat pertama, jika jumlah dari komunikasi verbal mengurangi uncertainty dan dikuranginya Uncertainty menambah tingkat keakraban dari self-disclosure, kemudian ditambah komunikasi verbal dan menambah tingkat keakraban hubungan positif. Kamu dapat menghasilkan 20 teorema lainnya dengan menggabungkan axiom-axiom menggunakan formula deduktif. Dalam menambahkan, kamu membutuhkan untuk memakai prinsip dari multiplication dengan memperbanyak positif dan negatif. Sebagai contoh, jika dua variabel mempunyai hubungan positif dengan ketiganya, mereka diharapkan memiliki hubungan yang positiv juga dengan yang lainnya. Jika satu variabel mempunyai hubungan positif dengan ketiga padahal yang lainnya memiliki hubungan yang negatif dengan ketiganya, mereka akan memiliki hubungan negative kepada yang lainnya. Akhirnya, jika dua variabel masing-masingnya memilki hubungan negative dengan ketigannya, mereka akan memiliki hubungan positiv dengan yang lain. Proses ini memperbolehkan URT untuk menjadi Comprehensive Theory.

Expansions of Uncertainty Reduction Theory

Berger dan beberapa kerabatnya, melanjutkan untuk menyaring dan memperluaskan teori tersebut. URT telah diperluas dan dimodifikasi dalam area yang terbatas. Area-area tersebut meliputi penambahan axioms (sesuatu yang dapat dibuktikan kebenarannya tanpa pembuktian), kondisi yang sebenarnya, strategi-strategi, hubungan yang dibangun, dan konteks.

Additional Axioms

Berdasarkan pada penelitian yang lebih jauh lagi, Berger dan Gudykunst (1991) menambahkan axiom yang kedelapan, yang nantinya mendukung 7 teorema yang baru.

“Axiom ke-8: Uncertainty is negatively realated to interaction with social networks. The more people interact with the friends and family members of their relational partner, the less uncertainty they experienced.”

Penelitian menunjukkan bahwa axiom tersebut berdasarkan pada hubungan yang melebihi pada saat kita memasuki sebuah panggung; Berger dan Gudykunst kadang mempertimbangkan hubungan yang romantis.

James Neuliep dan Erica Grohskop (2000) mengusulkan axiom yang ke-9 berdasarkan pada pekerjaan mereka dalam mengkorelasikan uncertainty/ketidakpastian dan kepuasan dalam berkomunikasi.

“Axiom ke-9: There is an inverse, or negative, relationship between uncertainty and communication satisfaction.”

James Neuliep dan Erica mendefinisikan kepuasan dalam berkomunikasi sama seperti apa yang dikatakan oleh Hecht yaitu bahwa suatu respon yang dapat mempengaruhi prestasi komunikasi, adalah goals dan expectations (harapan). Setelah menggabungkan dua studi tersebut, Neuliep dan Grohskopf menemukan bahwa selama awal interaksi mempengaruhi, sebagai individu-individu yang mengurangi uncertainty (ketidakpastian), mereka mengalami kepuasan berkomunikasi yang lebih banyak daripada dalam situasi di mana ketidakpastian tetap tinggi. Neuliep dan Groshskopf mengamati ketidakpastian dengan suatu komunikasi outcome variable yang spesifik.

Antecedent Condition

Berger (1979) telah mengusulkan bahwa 3 antecedent (prior) conditions atau kondisi yang sebelumnya terjadi ketika adanya pengurangan uncertainty. Kondisi yang pertama terjadi ketika oranglain mempunyai potensial untuk memberi reward atau punishment. Antecedent condition yang kedua terjadi ketika orang lain berperilaku contrary (berlawanan) terhadap harapan. Sedangkan kondisi yang ketiga terjadi ketika seseorang mengharapkan untuk berinteraksi dengan orang lain di masa yang akan datang.

Stategies

Berger (1995) mengatakan bahwa orang-orang menggunakan 3 kategori strategis dalam mencoba mengurangi ketidakpastian, yaitu pasif, aktif, dan interaktif. Passive strategies yaitu mengurangi ketidakpastian dengan pengamatan yang rendah hati. Sedangkan active strategies terjadiketika seorang pengamat terikat dalam beberapa tipe dari usaha oranglain daripada berhubungan langsung dalam mencari informasi tentang orang lain. Yang terakhir, interactive strategies, terjadi ketika si pengamat dan orang lain terikat dalam hubungan langsung atau berinteraksi secara face-to-face. Percakapan tersebut ada kemungkinan mencakup self-disclosures, direct questioning, dan informasi yang lain.


Developed Realtionship: Beyond the Initial Encounter

Ketika Berger dan Calabrese meyakinkan teorimereka, mereka tertarik dalam mendeskripsikan awal perjumpaan seseorang dengan orang asing. Mereka telah membagi pandangan teori mereka dengan jelas dan sempit.

Ketidakpastian dalam membangun relationship mungkin berbeda dengan ketidakpastian dalam initial ecounters. Hal tersebut dapat berfungsi secara dialectical dalam suatu relationship, yaitu bahwa terdapat kemungkjinan menjadi suatu ketegangan dalammengurangi dan meningkatkan ketidakpastian dalam membangun relationship (Baxter dan Wilmot, 1985). Sementara pengurangan uncertainty dapat menjadi reward, kemampuan untuk memprediksi perilaku orang secara lengkap dapat emmbawa kebosanan (boredom). Boredom dalam suatu hubungan interpersonal mungkin lebih termasuk cost daripada reward.

Gerald R. Miller dan Mark Steinberg (1975) nencatat bahwa orang mempunyai keinginan besar terhadap ketidakpastian ketika mereka merasa aman daripada apa yang mereka lakukan ketika mereka merasa tidak aman.

Beberapa peneliti yang tertarik mengenai bagaimana URT digunakan untuk membangun relationship, mengusulkan bahwa adanya realitional uncertainty, yaitu hilangnya kepastian mengenai masa yang akan dating dan status suatu relationship. Relational uncertainty ditemukan untuk dibedakan dari individual uncertainty karena Realtional Uncertainty terjadi pada level yang lebih tinggi dari abstraction.

Marianne Dainton dan Brooks Aylor (2001) menjelaskan bagaimana relational uncertainty digunakan dalam tiga tipe relationship yang berbeda-beda, yaitu long-distance relationship tanpa interaksi face-to-face, long distance relationship dengan beberapa interaksi face-to-face, dan geographically close relationships. Para peneliti tertarik untuk melihat bagaimana relational uncertainty, jealousy, maintenance, dan trust interested berada dalam tiga tipe dari suatu hubungan. Para peneliti tersebut juga melakukan suatu investigasi bahwa 25-40% para mahasiswa menjalani romantic relationship dalam jarak jauh.

Context

URT lebih mengalami penambahan ke konteks yang lain. Sebagian besar dari hasil kerja telah diselesaikan dalam intercultural konteks. Berger (1987) menunjukkan bahwa uncertainty varies menyebrangi budaya, dan beberapa penelitian memberi gambaran cultural applicability dari URT.

Gudykunst dan Tsukasa Nishida (1986a) menemukan perbedaan dalam low-context cultures dan high-context cultures. Berdasarkan Edward T. Hall (1977), low-context merupakan budaya, seperti yang terdapat di US, Jerman, dan Swiss, di mana sebagian besar pemaknaan berada dalam kode atau pesan. Sedangkan high-context cultures merupakan budaya-budaya, seperti yang terdapat di Jepang, Korea, dan China, di mana pemaknaan berasal dari suatu pesan yang berada dalam konteks atau internalized dalam listeners.

Dengan memperhatikan penelitian low- dan high-context cultures, Gudykunst dan Nishida menemukan frekuensi komunikasi dapat memprediksikan pengurangan uncertainty dalam low-context cultures tetapi tidak dalam high-context cultures. Para peneliti juga menemukan bahwa orang menggunakan komunikasi langsung (dengan bertanya) untuk mengurangi ketidakpastian dalam individualistic cultures. Dalam collectivistic cultures, komunikasi tidak langsung lebih banyak digunakan dengan individu yang tidak diidentifikasikan sebagai anggota dari cultural in group. Bedasarkan teori, kemudian orang yang berasal dari budaya yang berbeda tersebut terikat dalam jenis komunikasi yang berbeda pula guna mengurangi ketidakpastian mereka.

Suatu konsep yang sama seperti pengurangan ketidakpastian yaitu uncertainty avoidance, yang mana merupakan suatu usaha untuk menghindari/mencegah situasi yang ambigu. Dengan kata lain, uncertainty avoidance digunakan untuk toleransi seseorang demi ketidakpastian. Geert Hofstede percaya bahwa ap ayang menjadi prespektif dari orang-orang yang baerada dalam high uncertainty cultures adalah, “perbedaan merupakan suatu bahaya”, jadi perbedaan itu dianggap sebagai sesuatau yang membahayakan dan perlu dihindari., sedangkan orang-orang yang berada dalam low-uncertainty avoidance cultures mengatakan bahwa perbedaan itu justru menambah rasa keingintahuan kita; perbedaan dijadikan untuk menambah ilmu pengetahuan. Gudykunst dan Yuko Matsumoto menunjuk bahwa perbedaan-perbedaan yang ada dalam setiap budaya dapat membantu kita untuk memahami perilaku negara-negara lain dalam berkomunikasi.

Contoh dalam Kehidupan Sehari-hari

Contoh URT. Ani dan Dewi bersahabat. Pada suatu malam, Dewi mengirimkan sms kepada Ani. Setelah membalas sms tersebut, Ani tidak mendapat balesan balik padahal pesannya mengandung pertanyaan. Ani berpikir kalau Dewi marah kepadanya karena Ani sempat menceritakan bahwa dia kemarin bertemu dengan mantan kekasihnya Dewi yang sempat bermasalah dengan Dewi. Malam itu, Ani benar-benar takut kalau Dewi marah dengannya. Besoknya, Ani bertemu dengan Dewi. Namun, Dewi malah tersenyum kepadanya dan tidak ada tanda-tanda bahwa Dewi marah kepadanya. Ani sedikit optimis kalu Dewi tidak marah kepadanya. Di akhir kelas, Dewi mengahmpiri Ani dan berkata: “Hai, maaf kemarin aku tidak sadar kalau pulsaku ternyata sudah habis. Pati kamu menyangka kalau aku marah sama kamu, ya?” Ani tertawa lalu mengiyakan perkataan Dewi. Mereka berdua pun tertawa. Adanya ketidakpastian apakah Dewi marah terhadap Ani atau tidak. Namun, dari senyuman Dewi, Ani mempunyai petunjuk kalau Dewi tidak marah kepadanya. Selain itu, sebelum Ani memastikan dengan bertanya langsung kepada Dewi, sahabatnya itu sudah memberitahu duluan bahwa dia memang tidak marah kepadanya.

Contoh salah satu aspek (strategi) dalam expansion of URT. Ria bersahabat dengan Amel dan mereka berdua berada dalam satu kelas, secara nampak mereka berdua saling mengamati satu sama lain dan hal tersebut masuk dalam passive strategies. Ketika Ria mengamati bagaimana Amel bereaksi terhadap lelucon yang diberikan oleh dosennya saat mengajar, dia (Ria) menggunakan passive strategies yang disebut reactivity searching atau mengamati Amel yang melakukan sesuatu. Selain itu, adanya disinhibition searching, yaitu suatu passive strategi yang dilakukan denganmengamati perilaku natural seseorang atau perilaku uninhibited dalam lingkungan yang nonformal. Misalnya, Ria ingin mengamati Amel dalam setting yang lebih nonformal, yaitu di luar kelas. Ria ingin melihat bagaiman Amel bersikap ketika inhibition-nya menurun.

Jika tidak ada satu pun yang mengikat teman untuk mencari tahu informasi tentang orang lain, orang tersebut akan menggunakan active strategy. Ketika mereka mengobrol setelah kelas berakhir, mereka menggunakan interactive strategy untuk saling mencari tahu dan untuk mengurangi ketidakpastian.


Evaluasi Teori

Setelah menyelesaikan teori dari publikasi, Berger (1987) menjelaskan bahwa Uncertainty Reduction, yang berisi beberapa usul dan saran daei kebenaran yang meragukan. Para penulis yang lain juga berpedapat yang sama. Walaupun URT telah mendorongperjainjian yang besar dari diskusi dan penyelidikan, ini juga telah dikupas tuntas. Pada dasarnya, kritik ini mencari kekurangan sekaligus pengaruhnya dari kegunaan teori tersebut.

Utility

Beberapa sumber percaya bahwa asumsi teori dari mata kuliah ini ada yang salah. Michael Sunnafrank (1986) berpendapat bahwa terjadi ketidaktentuan yang menurun terhadap diri seseorang dan juga orang lain pada saat pertama kali bertemu, akan tetapi hal tersebut tidak terlalu menjadi hal yang pokok bagi seseorang. Namun Sunnafrank berpendapat bahwa banyak terdapat tujuan yang yang maksimal justru dari orang yang diusir dari masyarakat ataupun dari keluarga sendiri.

Sunnafrank menyebut pada “reformulation” dari URT tersebut mengambil info yang menganggap berbagai sesuatau yang penting sudah diramalkan pada waktu pertama kali berinteraksi. Dari hal tersebut kita menjadi tahu teori tersebut sebagai Predicted Outcome Value (POV).

Untuk menggambarkan pada awal di bab ini, Sunnafrank berpendapat bahwa Malcolm akan menjadi lebih khawatir dengan memberi reward yang lebih di dalam kesanggupan dalam hubungan bersama Edi dibanding memikirkan apa yang sedang dilakukan oleh perempuan tersebut dan mengapa perempuan itu melakukan hal tersebut.

Sebenarnya, Sunnafrank menebak bahwa URT mungkin akan terjadi sesudah Malcolm memutuskan dari hasil apa yang telah diprediksikan dari pembicaraan dengan Edi. Berge (1986) menanggapi Sunnafrank bahwa sebuah hasil tidak dapat diprediksikan tanpa adanya pengetahuan dan ketidaktentuan yang diturunkan pada diri seseorang, satu pasangan, dan dalam sebuah hubungan. Ini adalah anggapan dari Berger bahwa pengurangan yang tidak tentu tersebut dari kemandirian yang seperlunya untuk diprediksikan. Nyatanya dia percaya bahwa jika tetap memiliki rasa ragu- ragu yang tinggi, itu akan tidak ada prediksi untuk hasil terakhir.

Jadi Berger menyimpulkan bahwa Sunnafrank memiliki jangkauan yang luas dari ORT daripada sumbangan yang alternative. Bidang yang kedua dari kritik URT yang telah dilakukan dngan kebenaran. Penarikan kembali bahwa terdapat beberapa masalah kebenaran, namun dia belum mau untuk menyerah pada teori tersebut.

Kathy kellermann dan Rodney Reynolds (1990) point pada axiom ke tiga, yang menyarankan bahwa penyebab ketidaktentuan informasi pada tingkat yang tinggi tersebut, yang melihat tingkah laku sebagai masalah. Kellerman dan Reynolds menjelaskan bahwa banyak waktu yang mungkin kita menjadi ragu- ragu tentang hal lain tetapi karena kita tidak tertarik pada hal yang lain, kita tidak memotivasi untuk mengurangi informasi dari segi penglihatan.

Heorism, Parsimony, Logika, Cosistency and Test of Time

Di samping kelemahannya, Uncertainty reduction theory tetap hanya sebagai teori komunikasi yang khususnya menguji interaksi awal. Selanjutnya, refleksi di dalam criteria, kita mengevaluasi teori dari bab tiga. Pertama : Teori ini sangat bermaksud menyelidiki sendiri. Contoh URT ini telah mengintregasi pencarian ke dalam penyelidikan di dalam kelompok kecil. ( Booth, butterfield dan Koester, 1988 ) seperti yang diselidiki di dalam komunikasi massa ( Dimmick, Sikand dan Pattersun,1994) dan komunikasi media computer (Walther dan Burgoon 1992).

Akhirnya, URT seperti teori pemikiran, dapat dipertimbangkan menjadi sementara di dalam teori yang asli, dan disana menjadi gagasan relevant yang lain.


Daftar Pustaka

West, Richard and Turner, Lynn H. Introducing Communication Theory. Analysis and Application. 2007. Singapore: McGraw Hill.

just being a loser for today

19 Maret 2009

Pernah, ga sih, kita benar-benar menjadi kacau hanya karena satu hal. Bukan karna banyak hal. Sekali lagi: bukan karna memang begitu banyak masalah yang kita pikirkan. It’s only one thing that can make us like a dumb! Hari ini, gue bener-bener ngerasain hal itu. cuman gara-gara satu hal, gue bener-bener gak bisa konsentrasi. Kayak orang tolol! And, that’s the real me… I AM MORON!! Ini udah kedua kalinya gue merasa seperti ini. Yang pertama, kejadian pas semester tiga. Dan, sekarang kembali terjadi…

Dan, yang menyebalkan adalah… karna masalah yang sama…

Pernah, ga sih saat kita benar-benar kuat, namun… ternyata kita rapuh…??
Pernah, ga sih… saat kita yakin kita bisa tertawa, tanpa sadar kita meneteskan air mata…??
Pernah, ga sih… saat kita mengatakan: “YA”, namun tanpa sadar kita malah menggeleng-gelengkan kepala…??

Itu yang gue rasa saat ini. Dan semalam…

The Last Conversation
“Aku gak apa-apa, kok! Tenang aja, lagi… I am just fine. So, I can let you go…”
Mungkin, dia gak melihat senyum yang gue berikan untuknya… Tapi, dia mendengar gimana ingus gue yang semakin lama semakin meler…

Malam itu gue hanya cuman duduk terdiam. Di depan gue cuman ada gambar bergerak, tanpa suara. Potokopian bahan ujian cuman gue pake buat mukul nyamuk. Tapi malam itu, gak ada nyamuk sama sekali. Gue bener-bener kosong. Mau nulis surat buat dia, takut kertasnya jadi basah dan rusak. I was just doing nothing last night. Like a MORON person… I wasted my time… Padahal, gue tahu kalo masih banyak kegiatan yang harus gue kerjain: pesenan orang gag jadi-jadi, masih ada tugas management merk,mikirin storyboard project, beres-beres kamar, dll …

Untuk kedua kalinya, gue berkata:
“… mau ke pantai, neh… buang semuanya… dan tetap melangkah dengan langkah tegap!”

Malam itu, kamar gue bener-bener berantakan banget. Sama kayak yang punya. Lembar potokopian di mana-mana. Buku perpus masih belom gue balikin, tas dagadu gue juga terdampar begitu aja. Belom lagi, lembar tisu yang kembali menemani di samping tempat tidur gue.

Sebelum beranjak tidur, gue mencoba tuk berkonsentrasi supaya gue gak telat. Besok ada ujian jam 8 pagi.
Berdoa kepada Tuhan supaya ikut ngebangunin gue yang kebo ini.
Siapkan alarm jam 07.00am, walaupun ada yang berjanji mau ngebangunin.
Kemudian, bersiap-siap untuk tidur.

And Everything Begins…

TINININITTTTTTTTTTT!! TINININITTTTTTTTTTT!! TINININITTTTTTTTTTT!!
Bunyi alarm tepat jam 7am. Tapi, gue malah pilih STOP!! Berharap yang berjanji buat ngebangunin itu menepati janjinya. Bodoh!!

Nritttttttnitttt!!
Sms masuk.
Gue baca. Gue sempat ketawa. Gue tidur lagi. Bodoh!!

Yang gue heranin adalah, pas gue tidur lagi, gue sempat-sempatnya bermimpi. Mimpi aneh, lagi! Haduh2… Gue mimpi kalo di poster gue tuh, di pojok kiri bawahnya ada 3 balon warna merah-kuning-hijau. Balon itu lama-lama kempes. Ternyata, ada yang bocor. Eh, masa gue malah minta tetangga kost gue buat ngejait!! Masa’ balon bocor malah dijahit??!! Bodoh!!

Tiba-tiba, gue tersentak kaget. Udh jam 07.40!! Gila!!
1 missed call. Tapi bukan dari orang yang berjanji. Bukan orang yang udah bikin gue kaco!! Gue seharusnya, gag menanti sesuatu yang seharusnya gak bakal gue nanti-nanti lagi!!

Gue ketik sms:
“haduuuhhh… ak telat. Gara2 tidur lagi… T.T”

BURUUAAAAAAAAANNNNNNNNNNNNNNNN!!!

Pagi ini, gue batal keramas dan batal boker.
Hufhhh….

DI KAMPUS: TAK JAUH LEBIH BAIK!
Gue teladh 3-5menit.
Seingat gue, gue ujian di ruang 4006.

Dosen gue: “kamu ruang mana?? Kok, telat??”

Gue: “iya, bu… ruang 4006..”
(tapi gue malah ngeloyor ke ruang 4004 padahal si dosen malah ngangguk2)

Gue: “kok, di 4004 gak ada daftar nama, ya??”
(kata gue daalm hati)
Hwuahahaaa…. Bego banget, gue!
Padahal, dosen gue yang nyapa ntu tuh udah di depan pintu 4006. Pintu-nya juga udah dibuka lebar-lebar… Hadoooh!!!

Dosen gue: “kamu, kenapa, to? Bingung gitu…”
(dosen gue geleng-geleng ngeliat gue yang panik kayak ketauan boker di celana ajah!)

Gue: “saya juga gak tau, bu… Saya telat, makanya saya bingung…”
(dosen gue makin geleng-geleng ngeliat gue. Ternyata ada mahasiswa-nya yang cukup aneh)

Nyampe di dalam ruangan, gue masih shock. Gue makin gak konsen ma soal tuh ujian. Analisis analisis dan analisis kasus!! Gue aja sempet gak ngerti format nih soal. Kok, ada soal A, B, dan C??? Itu dipilih salah satu atau gimana, to?? Kok, artikelnya kepotong gini, sih??? Kok, gue malah ujian, sih?? Lho, kok! Gitu, sih?! Lha, kok marah?! (Jiah! Jadi nyanyi!)

Lima belas menit pertama, gue cuman bisa bolak-balik soal, ngeliatin si penjaga yang gak ada ganteng-gantengnya sama sekali. Nyanyi-nyanyi. Ngeliat kakak-kakak tingkat yang lagi serius garapnya. Gue bener-bener nyante. Gue ndiri gak ngerti mo nulis apa. Gue pesimis buat ngerjain nomor satu. Soal pertama, gue disuruh menjawab dua konsep yang ada. Dankayaknya, kebalik, dah!… BODOH!! huhuhuu…. Hangus sudah score nilai sebesar 30…

Pasrah di nomor satu, gue lanjut ke nomor dua… Dan, gak ada perubahan sama sekali. Gue malah semakin nyante garapnya. Malah, kata si penjaga ujiannya, bakal ada waktu tambahan. Lah, gue mah gak ada bersukur-sukurnya bakal ada waktu tambahan. Mau dikasih waktu seharian, jugaa.. mendingan sekarang slesei juga, dah! Lah, mo nulis apa lagi, coba??! Baru kali ini, gue gak mengharapkan waktu tambahan. Biasanya, gue udah panic aja kalo waktu mengerjakan udah mevet-mevet, gitu…

Selama gue ngerjain soal nomor dua, gue sempet berhenti beberapa kali. Pokoknya, bener-bener nyante, dah! Rehat yang pertama, gue malah nyanyi-nyanyi lagunya Baim feat Artika:
“…aku kan di sini selalu bersamamu walau segala halangan kan datang menghampirimu… aku… melindungimu…”

Trus, lanjut lagi, dah! Hehehe…
Eh, tiba-tiba perut gue bergejolak! Mulesssss… banget!! Ini, tuh gara-gara tadi pagi kgak jadi boker.. Haduuuuuhhhh… sial, jasa! Gak mungkin juga gue guling-gulingan buat nahan sakitnya perut gue. Sumpah! Gue udah takut aja kalo bakal mengeluarkan bau tidak sedap atau bahkan, suara yang menggelegar!! Bisa malu tujuh turunan, dah gue!! Belom lagi, gue bakal diusir dari ruang ujian, neh…!! Hahaha… :D

Akhirnya, gue berhenti menulis lagi.
Eh, gue malah makin nyanyi-nyanyi ajah! Hahaa…
“… Lihatlah bulan yang sama agar kita merasa dekaaatttt… Lihatlah bulan yang sama agar kita terasa dekaaattt…”

Dan Puji Tuhaaaannnn, sakit perut gue pun langsung bablas!! Maksudnya, udah gak sakit lagi tuh perut gue…, bukannya malah bablas jadi kentut! Hahaha… Ternyata, nyanyian maut gue cukup dapat menyembuhkan sakit perut. Sipppp!!

Gue kemudian melanjutkan soal ke tiga.
Gue menulis semakin ngawur. Soal itu beranak pertanyaannya, ada a dan b. Pas awal baca soal, gue tahu kalo itu harus dikerjain dua-duanya… Tapi, pas gue garap tuh soal… Eh, gue malah cuman ngerjain satu doang! Bodoh!!

ARRRRGGGGGGHHHHHHHHH!!

*garuk-garuk kepala karna kehilangan 20 point nilai*

.sial.

Hari ini gue bener-bener kacau.
Tapi, gue diingatkan kembali tentang apa yang telah gue tulis sendiri…

” but… still try to smile for your unpredictable life, ha??”

Yapz!!

It’s a must.

Apapun yang terjadi, gue harus bisa bangkit tuk berdiri. Tegakkanlah kepalamu agar kau bisa tetap menatap jalan yang ada di depanmu. Agar kamu takkan terjatuh lagi untuk yang kesekian kalinya.

Emang kontras banget. Beberapa jam yang lalu (di tgl 19 maret 2009), gue memberi semangat buat temen gue yang sedang jatuh. Tapi setelah itu, giliran gue yang jatuh. Gue yang rapuh. Gak ada semangadh dari mereka yang lain. Gue rapuh sendiri. Tapi, gue yakin kalo suatu saat nanti mereka pasti akan menatapku sambil tersenyum karna aku mampu bangkit sendiri. Aku jatuh karna ulahku, dan aku bangkit karena aku sendiri.

Sama seperti aku saat aku belajar untuk jalan waktu semasa kecil dulu. Aku berusaha menggapai tangan mama yang ada di depanku. Aku jatuh sebelum aku sampai. Tapi, aku harus bangkit berdiri lagi agar aku dapat menggapai tangan mama dan aku bisa memeluknya erat. Akhirnya, aku berhasil merasakan tangan hangatnya dan mama pun tersenyum melihatku.

Kamis, 19 maret 2009.
Hari ini Kosong.
Tiada kewarasan.
Tiada kewajaran.

Namun aku tahu, mereka selalu ada di sekitarku. Dan berkat mereka aku bisa kembali tersenyum, bahkan tertawa.

*thx buat dia yang telah membuat saia kembali menjadi pecundang dan tetap berdiri*

Mesin Waktu untuk Para Sahabat

18 maret 2009, tiba-tiba dua orang sahabat mengirimkan sms forward-an tentang persahabatan. Gue ragu mau gue bales apa kgak. Karna, slama ini yang terjadi, kami berdua hanya cuman bisa sms kata-kata mutiara doang. Seolah-olah, sms forward-an itu cuman sebagai absen ajah. Padahal, gue mau “ngobrol” sama dia… Okeh! Gue memutuskan untuk tetap membelas sms-nya. Sebenarnya, gue pengen bales pake sms forward-an juga… Tapi, gue ngerasa kalo itu bukan dari dalam hati gue sendiri. Akhirnya, gue coba bales sms seperti apa yang bener-bener gue alami malam itu:

Langit malam ini rame banget ma bintang
Gue ngebayangin waktu gw bcanda2 bareng ma xan…
Sama ramenya dg bintang2 d sanah…
Tx, y sob..
Ud meramaikan hdp gw slm ni..

Emang bener, langit pada waktu itu bener-bener memperlihatkan bintang-bintang. Ada Seringai dan Perisai juga, kok di sanah… hehehe…

Gue gak banyak berharap kalo sms gue bakal dibales sama dia. Namun, ternyata dia merasakan apa yang gue rasakan. Rindu akan sahabat. Dia membalas sms gue. dia bilang kalo kangen sama masa-masa sekolah dulu. Bercanda bareng. Ketawa bareng. Apalagi, waktu gosipin orang. Pasti, makin bersemangat.

Dia bilang kalo dia gak bisa pulang pas libur Paskah. Gue kecewa. Padahal, gue pengen banget ngajak dia kumpul bareng. Dia berandai-andai, kalo aja kita punya kegiatan yang sama antara satu dan yang lain… kita pasti bisa ngatur waktu buat ketemuan lebih gampang. Kalo sekarang, kita pasti sibuk sendiri-sendiri dengan urusan masing-masing…

Dia juga bilang supaya gue menciptakan mesin waktu supaya masa-masa SMA dulu bisa keulang kembali… Gue bingung mau bales seperti apa. Gue gak mau memberikan jawaban yang gak realistis, karna gue gak mau seolah-olah gak ada solusi untuk bisa kumpul bareng… Padahal, gue percaya bahwa gue pasti bisa kumpul-kumpul bareng ma sobat-sobat gue dulu walaupun slaah satu dari kami udah jadi presiden sekali pun!

“… mesin waktu?? Yang bisa ciptain mesin waktu itu bukan cuman gue aja… Tapi kita sendiri… Apakah kita mau mengulang waktu masa-masa dulu atau nggak…”

Yapz!
Masing-masing orang udah punya mesin waktu sendiri.
Mesin waktu itu pun dapat diputar sesuka hati kita…
Kita sendiri yang nentuin akan kemana kita dengan mesin waktu yang kita miliki…

Ps:
Makasih buat semuanya, wahai sobatkuw…
Kapan kita putar lagi mesin waktu kita secara bersama-sama??
Waktu memang gak bisa diputar kembali…
Tapi kita masih punya mesin waktu yang bisa kita putar sesuka hati…

[Mesin Waktu: ON]

.Reality Show TOLONG bikin GELENG-GELENG.

Tak sengaja lewat depan rumahmuw…
Ku melihat ada tenda biru…

Ooops! Opening yang salah…!!

Maksudnya, pada Senin (09/03/09) tidak sengaja gue melihat tayangan televisi lagi. Kebetulan, acara yang gue nikmati (secara terpaksa) itu adalah reality show TOLONG, yang ditayangkan oleh salah satu stasiun televisi swasta yang berinisial RCTI… hehehe… Episode kali ini mempunyai judul: “Menjual Ikan untuk Membeli Obat!” (tapi gak pake backsound-nya doraemon, kok!). Yang menjadi pemeran utamanya adalah seorang anak kecil yang kira-kira berumur 6 tahun. Dia berniat untuk mencari uang demi membeli obat untuk bapaknya yang sedang sakit.

Akhirnya, seperti biasa (dan sesuai dengan skenario), anak itu dilepas di alam bebas dan mulai beraksi mencari para si empunya kebaikan hati yang tak terhingga, yang mau membeli ikkan yang dia bawa seharga Rp 20.000, 00. Reality show yang udah muncul sejak gue berada di bangku SMA (bener, gak iah?).

Yang namanya terpaksa menonton, gue pun hanya sambil lalu aja, menikmati tayangan itu. Gak ada klimaksnya. Selalu ada pola yang sama di setiap episode: “gak ada yang nolong di 20 menit pertama-di 10 menit terakhir muncullah si empunya kebaikan hati-si penolong dikasih hadiah-lalu muncullah profil mengenai si penolong”. Dan, tidak lupa kalimat terakhirnya: “hari ini, kita belajar dari…..” Tapi entah mengapa, episode Senin kemaren membuat kepala gue geleng-geleng persis kayak maenan boneka anjing yang ada di dashboard mobil… *lebai mode: on*.

Geleng-geleng #1

Sang anak (A) menghampiri seorang bapak (B) dan seorang ibu (I) yang sedang duduk-duduk bercengkrama. Posisi kamera pun berada di samping B secara tersembunyi.
Berikut percakapan yang terjadi (mungkin ini terdapat pengurangan atau penambahan dialog, tetapi yang jelas si penulis memberikan inti pembicaraan yang sama dengan apa yang ditayangkan).

A: “Misi, bu… Misi, pak… mau beli ikan, gak?”

I: ”Ha? Ikan apa?”
A: “Ini… 20 ribu aja. Uangnya nanti mau dipake buat beli obat. Bapak saya lagi sakit…”

B: “….” Meracau gak jelas…

Hingga akhirnya, sang ibu pun tidak mau membeli ikan yang ditawarkan oleh anak perempuan itu. sang anak hanya bisa pergi meninggalkan tempat itu dengan perasaan kecewa.
Namun, tayangan menunjukkan gambar sang bapak dan ibu yang masih bercengkrama.

Tiba-tiba muncul tulisan: “tanpa sengaja pria ini menyadari kehadiran Tim TOLONG”

Pria yang dimaksud adalah bapak yang ada di depan kamera.

B: “Wuah, jangan-jangan ini acara yang ada di tipi itu lhoo…”

I: “acara apa?”

B: “acara TOLONG… itu, lhooo yang di tipi… *SENSOR*” (ada bunyi sensor TITTTTT! Mungkin, stasiun yang dimaksud si bapak bukan stasiun RCTI. ^^!)

I: ”Masa?” (ibu itu tidak percaya begitu saja)

B: “Iyah! Mesti ada kamera di mobil-mobil depan. Liat aja itu… Nanti kalo kamu nolong, tuh bakal dikasih hadiah! Dikasih uang, lagi! Udah, Sanah kejar anaknya!” (Malah bapaknya yang nafsu)

Akhirnya, si ibu-ibu itu pun terhipnotis oleh niat licik si bapak. Sang anak yang udah jauh pergi pun dikejarnya. Namun, tampaknya si ibu maish ragu dengan ovehan bapak-bapak itu. apalagi, harga ikan yang ditawarkan cukup mahal bagi si ibu. Alhasil, si ibu malah balik lagi dan mengurungkan niatnya untuk membeli ikan tersebut.

Geleng-geleng #2

Sekarang giliran target yang kesekian. Sang anak (A) menawarkan seorang tukang becak (TB) yang sedang menunggu penumpang. Bapak-bapak separuh baya itu pun sedang duduk di dalam becaknya sendiri sambil sesekali menyeka keringatnya.

A: “Pak, mau beli ikan?”

TB: “Bapak aja belum narik… Ini baru kerja.”

A: “Kan ikannya bisa buat makan keluarga bapak…”

TB: “Yaa… Bapak juga belum dapat uang sama sekali…” (sang bapak masih bisa menolak dengan halus).

Sang anak harus bisa menerima kenyataan bahwa tukang becak tersebut memang baru mulai bekerja dan belum mendapatkan uang sepeser pun. Alhasil, sang anak pun pergi meninggalkan tukang becak tersebut.

Namun, kamera tetap focus ke tukangbecak tersebut dan tiba-tiba terlihat bahwa laki-laki itu menatap ke arah kamera. Dan muncullah tulisan yang membuat gue geleng-geleng lagi.

“tanpa sengaja pria ini menyadari kehadiran Tim TOLONG”

Eh, si tukangbecak itu beranjak dari becaknya dan melangkah beberapa meter untuk langsung menhampiri si anak.
Haduh2…

TB: “10 ribu mau?” (katanya dengan mengambil jarak lebih dekat dengan si anak)

A: “Tadi katanya bapak belum narik?”

TB: “Tadi udah bawa uang dari rumah.” *Wuah, pinter bokis juga, nih bapak!*

A: “Kok, Bapak bohong? Bapak mau hadiah?”

TB: “Mau aja kalo dikasih…” *JENGJENGJENG!!* (backsound yang tiba-tiba menggelegar! Dan bikin gue geleng-geleng disko!!)

A: “Bapak nolong karna ada hadiahnya?”

TB: “….” (I don’t know what he said. Maklum, rada budeg!)

A: “Trimakasih atas kebaikan bapak…” (katanya sambil pergi begitu saja)

Hiyaaaaaaaaaaaaaaaaa…
Si tukang becak ditinggalkan begitu saja…

Well, episode yang kebetulan gue tonton ini cukup menarik (buat gue). Menurut gue, ini menunjukkan salah satu efek negative dari reality show yang mengajarkan tolong-menolong ini. Sejatinya, tentu saja tujuan daritayangan ini adalah mengajarkan, bahkan menanamkan sikap tolong-menolong kepada sesama yang berkekurangan, bahkan saat kita juga masih berkekurangan.

Tayangan reality show yang berorientasi pada masalah social ini pun berharap bahwa para audience mempunyai etika kepada sesama, khususnya adanya nilai-nilai kemanusiaan dalam tolong-menolong (sekali lagi), khususnya dalam kategori tolong-menolong secara ikhlas. Reality show ini mengajarkan adanya rasa ikhlas. Kamsudnya? Yaaa… liat aja, nanti kalo ada yang berniat menolong, pasti akan diberi imbalan. Tapi, imbalan itu dalam bentuk surprise, to? Si penolong juga tidak tahu kalo dia akan diberi imbalan berkat bantuannya (kecuali imbalan dalam bentuk pahala di surga dan ahirat). Apalagi, kalo imbalannya berupa uang tunai dan yang datang beberapa menit setelah dia memberikan bantuan. Itu adalah etika yang diajarkan oleh tayangan tersebut: menolong sesama dengan ikhlas.

Namun dalam episode ini, nampaklah dampak negative dari tayang “mulia” tersebut. Ternyata, pemilik tayangan tersebut melewatkan sesuatu. Melewatkan kekurangan dari tayangan tersebut, khususnya mengenai perilaku masyarakat yang muncul akibat dari tayangan itu. Masyarakat yang tahu kalau ada syuting reality show TOLONG, mereka akan segera memanfaatkannya. Mereka akan menolong, karena mereka tahu bahwa mereka akan diberi hadiah. Apalagi dengan contoh percakapan antara si anak dengan tukang becak. Si tukang becak pun secara polos dan dan jujur menjawab akan menolong jika ada hadiah…

Hufffhhh….

Kalau sudah terbukti seperti ini, apakah tayangan ini masih dirasa efektif sebagai media pembelajaran masyarakat mengenai nilai-nilai mulia yang ada?? Apalagi, gue sendiri semakin il-feel setiap ada acara televisi yang berformat reality show. Menurut gue, they don’t show about the reality… Jadinya, di otak gue udah terkotakkan bahwa reality show 70-80% tetep aja rekayasa… hehehe… Solusi buat diri sendiri:
“Gak semua yang lw liat dan denger adalah BENER!!”

Nah, kalo kata dosen Etika dan Filsafat Komunikasi gue… di sinilah peran si etika lagi, khususnya bagi para audience yang menongtonnya… (gaya banget, dah!). Etika ternyata juga bisa bersifat reflektif. Kemudian, etika kembali mencoba menguraikan dari segi normatif atau evaluatif dari hal-hal yang ditayangkan tersebut. Sehingga audience (sebaiknya) memisahkan mana yang harus dilakukan dan yang tidak. Istilahnya mah, balik lagi bahwa audience menajdi gate keeper. Tapi, bagaimana dengan masyarakat yang belum melek media???

Yaaaaa…

Balik lagi akan permasalahan klise yang terus-terusan muncul dan semakin membusuk:

Tayangan media yang “gak mutu” demi mengejar keuntungan.
Imitasi dari media Barat, padahal jelas sekali Indonesia bukanlah Barat… melainkan (Asia) Tenggara.
Media membentuk masyarakat.
Masyarakat membentuk media.
Adanya pembodohan massal karena masih banyak masyarakat yang belum melek media.
Yang sudah melek (media) pun takkkan mampu merubah sistem karena tak ada dukungan penuh, dan justru ikut terjebak dalam sistem karna mau tak mau.

Hiyaaaaaaaaaaaaaaaaaaa….

Ada solusi??

.SMS, oh SMS.

(040109)

SMS, bikin orang makin produktif pulsa dan jempol pun semakin lihai menari salsa di atas keypad handphone. Entah mulai kuliah ini, gue jadi pelaku SMS aktif. Adaaa aja, sehari mengetik SMS. Pemborosan. Hehehe…

Tapi, di awal Januari gue lagi kesel-keselnya sama orang-orang yang kalo Tanya lewat SMS itu gak sekalian. Maksudnya, satu layar - satu pertanyaan.. Mana 5W1H-nya??? Disangkanya gue murah pulsa trus, jadinya gak keberatan kalo menjawab pertanyaan satu-satu, pa?? Kalaupun gue murah pulsa, gue jawab satu layar-satu huruf, dah! Hehehe… Kejadian init uh udah berulang kali terjadi, tapi masih gue tahan-tahan. Nah, pas tanggal 4-5-6 januari kemaren, secara kebetulan gue mendapat kejadian selama 3 hari berturut-turut. *sigh*

Kasus I
Suatu waktu gue ada agenda buat kumpul-kumpul di rumah Viskoi.
Si Sete tiba-tiba sms: “ndeso, besok jadi ke rumah pska?”
Gue pun hanya membalas seperti ini: “Iya. Jadi, bu…”
Gue sengaja gak kasih detailnya lagi coz gue udah pernah sms sekitar 3hari yang lalu. Lengkap dengan jam kumpul dan lokasi. So, gak salah juga gue cuman bales apa adanya.
Eh, si Sete SMS lagi: “jam berapa?”

*GUBRAAAGG!!*

Weleh… kenapa gak sekalian tadi ditanya, yooo mbak yuuuu…
Dengan ikhlas, gue pun membalasnya:“jam 10am, seperti yang sudah saia beritahukan sebelumnya, bu Sete… hehehe…” —> mencoba menimbulkan kesan friendly.

Sete pun kembali me’reply again. Sebelum membuka SMS-nya, gue berdoa komat-kamit dulu. Takut dia malah tambah bikin marmos.
“OK! Sampe ketemu di sana!” Hufff… untunglah gak nanya-nanya lagi… hehehe… Sete… Sete… makin cinta, deh akh! ^^!

Kasus II
Untuk kasus yang ke dua ini semakin membuat gue marmos. Udah pulsa lagi sekarat mapuz, eh! Di SMS sama orang yang lagi Tanya-tanya informasi. Sebut saja si tersangka yang membuat kepala gue berasap ini BUNGA (Bukan nama sebenarnya ataupun nama ibunya).

Bunga: “mb gandes, ni Bunga tny dund pembyrn yg 2,2 jt bsk it spp tetap or variable ci? Q binund. Blz d hp q ajj y.” (sisa 55 karakter)

Gue: (masih dengan senang hati membalas SMS itu sambil cengar cengir)“itu spp tetap, dik… hee…” (masih ada 130 karakter yang terbuang percuma)

Bunga: “berarti spp tetapna it byrna tiap smster or tiap taun?” (sisa 107 karakter)

Gue: (tarik nafas dalam-dalam. Baru tau kalo ada juga yang Tanya-tanya bayar spp kuliah itu tiap taun. ABG, oh ABG…) “tiap semester, buk… tiap kamu naik kelas, byr spp ttap n byr variable jg. Gt, buk.” (sisa 76 karakter)

Bunga: “Ooo gt to mb… (gue piker dy udh berenti tny. Eh! Gak taunya…) n spp tetap ntu g bs d ci2l y?”

*GUBRAGGGG!!!*

Untung penyakit anjing gila cacar aer gue gak kumat, dah! Bisa-bisa gue nularin emak plus kakak gue yang lagi duduk di sekitar gue. Asap hitam pun udah muncul dari kedua kuping gue. Nyaris juga yang di pantat ikudh keluar… Hehehe… Heran, gue! Perasaan, kampus udah berbaik hati buat ngebagiin lembaran (secara gratis, lho! Bisa diambil sepuas-puasnya. Jadi, bisa di’kilo’in juga! Hehehe…) tentang tata cara/prosedur pembayaran tetek bengek segala rupa. Haduh… haduh…

Hufff…(menenangkan diri)

Baiklah! Sebagai senior yang baik hati, peduli pada yuniornya, serta peduli pada pasokan pulsa… maka, saya tetap membalas sms’y.

“Aduh, bu… Setwku, gbsa, d. *setau gw, yang bisa dicicil itu seprei atao daster. Paling mentok, jg panci! Biasanya 3x cicilan, tuh!* Tp drpd kmu pnasaran, kmu bsk cb dtg k kmps aj. (secara, rmhnya masih di jogja juga). Mdh2n TU jg bka, so kmu bs ambil selebaran ta2 cra pmbyrn. Plsaku tgl 5rts soalna.”

lah, situ mah pk pulsa orang… Lah, gue??? Mana pas di rumah juga gak dapet jatah pulsa, lagi…

Hufff…

mungkin itu cara yang (tidak) baik untuk mengakhiri pembicaraan, memang. Tapi, mo gimana lagi?? Pulsa gue juga emang lagi disko sekarat. Mau dipaksain, pa?? Paling gak, gue udah bantu semampu gue.

Salah sendiri, gak nanya sekalian dalam 1 layar??
5W1H, dunkz! Inget aja iklan a-mild:
“Kamu di mana? Lagi apa? Sama siapa?”

atau lagunya kangen band:
“kamu di mana? Dengan siapa? Semalam berbuat apa?”
hehehe…

jadi, mklm aja kalo gue sering sms dengan jumlah pertanyaan yang borongan, coz gue juga gak suka buat orang tekor dengan mengetik satu jawaban dalam satu layar dengan sisa karakter yang masih berlebihan…

TV-One bikin geleng-geleng

[re-written dr minggu pertama januari 2009]

Part I
Jujur, selama gue di kost, gue jarang banged liad tipi. Kalo diitung frekuensinya dalam seminggu, palingan gue cuman satu ampe dua kali nonton tipi. Itu pun udah bersyukur banged. Paling maksimal dengan durasi 30-60 menit. Hidup serasa di dunia pedalaman tanpa ada informasi yang masuk melalui salah satu produk dari media siar tersebut.

Gue sebenarnya gak benci-benci amat sama televise tapi juga gak senng-seneng amat. Di kampus, dosen-dosen gue (mayoritas seolah-olah) menyerukan: “matikan televisimu!”. Seruan mereka pun beragumen sangat kuat. Berdasarkan pada riset-riset sebelumnya yang menunjukkan bahwa televise memberikan pengaruh negative pada anak-anak, khususnya. Dan ditambah dengan kenyataan yang ada, televise Indonesia pun dipenuhi dengan sinetron-sinetron “gak mutu”, begitulah istilah yang sering dipakai oleh mereka yang sama sekali gak selera ngeliadh sinetron.

Nah, pas liburan semester ini gue jadi lebih sering nongton tipi (yang berwarna! Gak kayak nasib tipi tunner gw! Hiks.) Gue jadi sering mencat mencet tombol remote tipi (hape jadul gue jadi punya saingan sekarang). Pilah pilih acara apa yang pas buat jiwa autis gue ini.

Tiba-tiba bokap gue duduk di belakang gue dan dengan kecepatan kilat bak gundala si putra petir sedang beraksi, bokap langsung memainkan jari-jarinya (yang jempol semua itu) di atas tombol remote tipi.

*channel no. 0 on: TV ONE* [Berita Petang]

Bokap memilih TV One untuk memuaskan dirinya. Rupanya tayangan berita yang saat ini ditontonnya tinggal 3/4. Maksudnya, dikit lagi tayangan tersebut udah mo selesai.

Gue pun berusaha untuk ikut menikmati. Yah, daripada gak ada tontonan lain… Hingga saatnya dua presenter acara berita tersebut memberikan closing. Saya tidak hapal persis closing yang dilakukan dua presenter tersebut, tapi yang jelas… begini gambaran kasarannya:

Presenter Wanita (PW)
“… blablabla (mengatakan bahwa insert berita yang baru saja ditayangkan merupakan berita terakhir)… saya… (menyebutkan nama. Tidak termasuk hobi, makanan kesukaan, dan zodiak.)”

Presenter Pria (PP)
“… dan saya… terimakasih…”

PW & PP
“…” (tidak bersuara apa-apa dan berusaha menahan senyum sampai sang switcher mengganti tampilan). Backsound suara-suara tembakan dan lagu sendu telah muncul (kamera pun mengambil Long Shot dua presenter tersebut). Tiga detik berlalu, kamera masih menyorot mereka berdua. Tampaknya ada yang tidak tahan dengan keadaan seperti ini.

PW
(Sambil menoleh kea rah PP) “Kenapa, sih gak langsung gambar aja?” *suara bocor mode: on*

PP
(spontan, yang tadinya tetep standby menghadap kamera, langsung meoleh si PW. Entahlah, kedua orang itu tau atao nggak kalo audio clip on mereka masih di volume normal)

Dan untungnya, sang switcher pun langsung mengganti video yang ingin ditayangkan. Alhasil, video mengenai dramatisasi Perang Palestina dan Israel muncul di layar tipi gue… Heleh… bocor audio lagi… audio lagi…

Part II
Ternyata, TV One gak cuman bikin gue geleng-geleng sekali aja. Dan kejadian terulang lagi di dalam bulan yang sama, Januari, di saat gue menikmati liburan dan tipi berwarna. Ironisnya lagi adalah, gue menemukan kesalahan di dalam program yang sama, yaitu Kabar Petang. Gue gak hapal persis seperti apa kronologisnya (buat gue, tayangan berita bukanlah tayangan yang mudah dihapal dengan sekali lihat), yang jelas…

Ceritanya, yang di studio punya insert berita berupa liputan live di suatu tempat. Nah, kan tiba gilirannya liputan live, nih di’take. Berikut kira-kira audio yang gue nikmatin dari depan tipi:
Pewawancara (P):
“… baik, pemirsa… saya akan mewawancarai… blablabla…”
10 detik wawancara berlangsung normal aja. Tapi saat si pewawancara sedang asik berceloteh ria tiba-tiba…

Camera person:
“… Sembilan apa sepuluh?!”
(suara laki-laki itu terdengar lebih keras disbanding si reporter yang berjarak kurang lebih 50cm dari kamera). Sang reporter tetap melanjutkan pembicaraannya, seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Atau mungkin, dia juga gak tau kalo ada kebocoran. Dua detik kemudian, suara yang sangadh annoying itu pun kembali muncul:
“… Sembilan apa sepuluh?! Gimana, sih>! Tadi katanya Sembilan!!”
(kata, tuh campers tanpa dosa. Sekarang intonasinya semakin tinggi. Mungkin kalo tuh campersnya muncul di layar, kita bisa ngeliat urat-urat di lehernya yang kayak orang varises, kali!)

Gue yang di rumah cuman bisa geleng-geleng kepala sambil berujar:
“ngopo e, pak dhe? Madang, urung??”itulah kata maksiat dari temen-temen kuliah gue, si Bang Niko.

Well, akhirnya… beberapa menit kemudian liputan tersebut pun berakhir juga. Sempet deg-deg-an juga, gue. takut kalo kebocoran terus terjadi sepanjang insert berita ditampilan. *kok, malah gue yang was-was, yak??*

Hmmm… gue sempat mikir kenapa si campers mpe ngomong, gitu. Mungkin dia bingung sama aba-aba FD (floor director) yang di situ, kali yak. Kayak waktu ikut FIAT kemaren, yang selalu jadi bahan evaluasi adalah soal aba-aba itu… hehehe…

Dalam kapanlagi.com, disebutkan bahwa TV One memang mempunyai porsi 70% untuk berita dan stasiun televise ini lebih diposisikan untuk kaum menengah ke atas (kata Erick Thohir, Direktur Utama TV One). Tapi, apakah dngan penyajian yang kurang maksimal ini dapat membuat audience mempunyai persepsi bahwa TV One merupakan stasiun televise yang inovatif dan edutainment, sama seperti yang diharapkan oleh Bapak Erick Thohir?

Hmmm… mungkin mungkin kesalahan-kesalahan teknis ini merupakan suatu kebetulan yang amat kebetulan buat saya. Kebetulan, saya yang nongton. Kebetulan terjadi dalam bulan yang sama. Dan, kebetulan dalam satu program acara yang sama. Yapz! Itu memang suatu kebetulan yang amat sangat kebetulan, bukan?

Kalo menurut gue, ironis banged, sih… TV One memberikan porsi program berita lebih diprioritaskan, namun SDM, khususnya, yang berada di bagian backstage, ternyata masih perlu memprioritaskan profesionalisme mereka dalam pekerjaan. Buat apa penyiar handal, tapi kalo para tim operatornya tidak handal… Penyiarpun pun tidak akan bisa bekerja maksimal. Tapi kata dosen gue, gaji di TV One lebih gede dibandingin Metro TV… tapi, kok pekerja broadcast-nya kurang maksimal?

Kesalahan-kesalahan teknis ini mungkin dapat dikategorikan sebagai hal yang manusiawi dan dapat per-maklum-an dari audience yang imperfectionist dan murah hati. Tapi, masih ada keprihatinan lainnya yang dialami oleh audience lainnya terhadap penyajian salah satu program berita, program yang menjadi andalan dalam konsep TV One. Ada dalam salah satu situs yang berisikan mengenai keprihatinan seorang ibu dengan celetukkan presenter dalam “Selamat Pagi Indonesia”.

Oia, ada yang kelewat. Ketika suasana tahun baru masih terasa… ketidaknyamanan gue terhadap program berita TV One juga ikut melengkapi. Memang, TV One mempunyai format berita yang presenternya lebih interaktif dengan presenter lain. Tapi, kadang-kadang terlalu santai dan sedikit jayus. Pada saat, ada laporan dari studio yang di pekan baru… sang presenter pun agak sedikit sombong terhadap dua presenter yang berada di studio Jakarta. Mungkin, lebih tepatnya: “ingin menunjukkan kesalahan orang lain”. Begini kata, presenter yang dari studio pecan baru: “ya, mungkin …. dan … (menyebutkan dua nama presenter di studio Jakarta). Tadi belum mengucapkan selamat tahun baru untuk pemirsa di rumah, maka saya atas nama kru dan kerabat kerja TV One mengucapkan selamat tahun baru 2009 bagi pemirsa TV One di rumah…” Dua presenter yang merasa tersindir itu pun cuman bisa senyam senyum ajah. Weleh…

Dan mungkin, masih banyak lagi keprihatinan-keprihatinan yang ada dalam dunia pertelevisian, tidak hanya TV One saja. Dan gak tau kenapa, sekali gue dikasih kesempatan nonton TV dengan waktu yang lebih banyak… Eh! Malah gak dibuat gak nyaman. Adaaaa… aja kesalahan teknis yang menggugah dan membuat hari resah… Alah! Hags. Tapi, kata dosen gue (lagi), rating TV One udah bisa membalap Metro TV! WOW! Dengan kesalahan teknis yang gue temuin, ternyata mereka punya rating yang tinggi… Dasiat!! Hehehe…

Ya, mudah-mudahan aja TV One dan tipi-tipi lain bisa lebihbaik lagi. Gue bukan sok menjadi orang yang perfectionist, tapi gak ada salahnya memberikan koreksi agar menghasilkan perubahan yang lebih baik! Iya, gak Bang One??? ^^!

*dukung gerakan matikan TV’mu! Nyalakan yang perlu!*

.^_^.

.berawal dari shoutout teman.

Sebenarnya, ini kisah lama dan sudah ada sejak internet masuk ke Indonesia. Pembahasan ini pun sudah sering ditemui di berbagai surat kabar atau penelitian-penelitian para ahli (dan dijadikan tugas UTS pada mata kuliah MPK semester yang lalu). Gue gag mau bicara secara ilmiah. Cuman ingin mengkaitkan apa yang terjadi secara real (dalam lingkup kecil) dan menghubungkannya dengan shout out seorang teman si salah satu situs pertemanan yang lain (itu, loh… situs yang lebih booming duluan dibandingkan dengan facebook ^^).

Everyone has a privacy part in their life. Tapi kadang, hal-hal personal pun bisa dijadikan sebagai konsumsi publik. Mereka bukan presiden, mereka bukan artis papan atas, artis papan bawah, ataupun artis papan triplek… mereka juga bukan tokoh-tokoh yang merasa punya ketenaran di antara manusia-manusia yang lain. Mereka adalah orang biasa. Walaupun begitu, mereka tetap saja merasa “nyaman” untuk berbagai cerita dengan milyaran orang di luar sanah.

Ambil contoh aja, waktu kita chatting. Ditanya umur, jenis kelamin, atau pekerjaan… Awalnya memang ngobrol yang umum-umum, tapi gak menutup kemungkinan kita jadi pelacur *pelaku curhat*, dah… Soal cinta-cintaan, lah.. soal lagi bête, lah… soal lagi sembelit, lah… dan apapun itu…

Kemudian, beberapa tahun yang lalu muncul tradisi buat nge’blog. Para bloggers mulai bermunculan. Ditambah lagi, mnculnya raditya dika sebagai penulis pelopor yang mengangkat novelnya dari tulisan-tulisan di blog-nya. Di dalam webblog, penulis bebas memasukkan tulisan-tulisan mereka. Lah, wong itu situsnya dia sendiri. Ada yang masukkin materi-materi akademis, teks lagu, download-an lagu, dan tak jarang pula penulis memposting berbagai kisah kehidupan sehari-hari yang terjadi dalam hidupnya. Mereka mungkin merasa: “people should know about it”.

Hmmmm, tapi kok kalo dipikir-pikir… apakah gejala ini sama dengan shout out yang dimiliki oleh temen gue, mayditha:

“Keluarga seperti orang asing. Orang asing seperti keluarga sendiri”

Keluarga, tempat awal kita berpijak sebelum kita mengenal dunia luar. Sebelum kita mengenal membaca dan menulis. Sebelum kita mengenal sekolah dan teknologi. Keluarga dalam konteks ini adalah ayah dan ibu. Keluarga yang ngerti kita punya tompel di mana *kita?? Lw aja, dah!* Keluarga yang ngerti kita punya alergi apa. Keluarga yang ngerti “telanjangnya” kita… mungkinkah dewasa ini semakin menjadi orang asing??

Tau, gak orang tua kita kalo kita sedang bête? Tau, gak orang tua kita kalo kita lagi merindukan seseorang?? Tau, gak orang tua kita kalo kita majang poto-poto mesra multi gaya dengan pasangan kita?? Tau, gak orang tua kita kalo kita ngefans sama tetangga kost kita?? Tau, gak orang tua kita kalo kita ngomong kasar di shout out/status??

Bagi orang tua yang tidak terampil dalam mengakses internet, mereka tentu gak tau itu semua. Jawabannya singkat:

“wong, mereka gak punya FS, kok!”

“wong mereka gak punya FB, kok!”

“wong mereka gak bisa internet’an, kok!”

Emak gue misalnya. Dia gak tau alamat weblog, FS atau FB gue. Untungnya, emak gue lebih memilih untuk menjadi gaptekers sejati. Ngurusin kerja, rumah plus, anak-anak yang autis kayak gue aja udah repot apalagi ngurusin friendster, facebook, dll. Wew! Tapi, seandainya mukjizat itu datang dan membuat emak gue bisa mengakses webblog gue, mungkin perasaan memberontak yang ada dalam diri akan mudah ditebak oleh beliau.

Tapi, gak menutup kemungkinan kalo ada orang tua yang bikin account FB. Kayak tante gue, misalnya. Hmmm, kalo itu… gue belom tanya-tanya bagaimana pantauan tante gue ke anaknya. Tapi, tante gue pernah bilang begini waktu ngobrol-ngobrol: “kalo punya account’y nyokap, pada takut diliatin ya wall-nya??” (katanya sambil ketawa). Hahaha… iya, juga sih… ^^!

tapi, dalam hal ini tetap aja berlaku johari window. Dari area yang samar-samar hingga area yang benar-bear blind.

Tetep aja berlaku: “gak semua hal lw perlu tau”

Atau: “lw perlu tau, tapi dia gak perlu tau”

Nyambung ke teori CPM juga, dah: “seseorang menentukan apa yang akan disampaikan dan kepada siapa pesan itu akan disampaikan”

So, apakah sah-sah saja bahwa:
“Keluarga seperti orang asing. Orang asing seperti keluarga sendiri”??